Archive for the ‘Materi Sejarah’ Category

Untuk mempermudah kegiatan pembelajaran, dapat menggunakan  materi ini, klik  !APARTHEID,  KERJASAMA UTARA-SELATAN,  PERANG DINGIN,  PERANG TELUK,  PERGERAKAN NASIONAL,  PERKEMBANGAN EKONOMI MASA PERUBAHAN,  PERKEMBANGAN IPTEK MASA PD II PERKEMBANGAN,  POLUGRI,  PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI INFORMASI MENUJU PROSES GLOBALISASI,  PERKEMBANGAN YUGOSLAVIA,  PUNTUHNYA UNI SOVYET,  TEKNOLOGI INDONESIA, bahan ajar 12, UNIFIKASI JERMAN

Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,

Di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta

Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilakukan dirumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No.1 (sekarang Perpustakaan Nasional, Depdiknas). Naskah proklamasi dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo.

Tulisan tangan naskah teks proklamasi. Inilah konsep teks proklamasi kemerdekaan yang semula ditulis diatas secarik kertas oleh Ir. Soekarno. Coretan-coretan yang terdapat dalam konsep itu menunjukkan banyaknya pertimbangan sebelum tercapainya kata sepakat mengenai kepastian isi dan redaksinya. Penyusunan teks berlangsung hingga dini hari tanggal 17 Agustus 1945.

Perubahan-perubahan

a.    kata “ tempoh” diubah menjadi tempo,

b.    wakil-wakil bangsa Indonesia diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”, dan

c.    tulisan “Djakarta, 17-8-’05“ diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahun ‘05.

Dalam perumusan naskah proklamasi itu, Ir. Soekarno membuat konsep dan kemudian disempurnakan dengan pendapat dari Drs. Moh. Hatta dan Ahmad Subardjo. Saat menjelang Subuh, naskah proklamasi berhasil diselesaikan dan Ir. Soekarno membuka pertemuan dengan para hadirin. Ir. Soekarno menyarankan kepada seluruh yang hadir itu agar menandatangani naskah proklamasi sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran Ir. Soekarno itu diperkuat oleh Drs. Moh. Hatta dengan mengambil contoh pada Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat) yang ditandatangani oleh 13 utusan dari negara-negara bagian. Namun, usul itu ditentang oleh seorang tokoh golongan pemuda yaitu Sukarni. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani naskah proklamasi adalah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni itu diterima dengan baik oleh para hadirin.

Setelah mendapat persetujuan, Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik sesuai dengan naskah tulisan tangannya yang telah mengalami perubahan-perubahan yang telah disepakatinya.

PELAKSANAAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS 1945

Pada pukul 05.00 waktu Jawa tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin Indonesia dari golongan tua dan golongan muda keluar dari rumah Laksamana Maeda. Mereka pulang ke rumah masing-masing setelah berhasil merumuskan naskah proklamasi. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada pukul 10.30 waktu Jawa atau pukul 10.00 WIB sekarang. Sebelum pulang Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja di kantor berita dan pers, utamanya B.M. Diah untuk memperbanyak teks proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia.

Pagi hari itu, rumah Ir. Sukarno dipadati oleh sejumlah massa pemuda yang berbaris dengan tertib. Untuk menjaga keamanan upacara pembacaan proklamasi, dr. Muwardi (Kepala Keamanan Ir. Sukarno) meminta kepada Cudanco Latief Hendraningrat untuk menugaskan anak buahnya berjaga-jaga di sekitar rumah Ir. Sukarno. Sedangkan Wakil Walikota Suwirjo memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan pengeras suara. Untuk itu Mr. Wilopo dan Nyonopranowo pergi ke rumah Gunawan pemilik toko radio Satria di Jl. Salemba Tengah 24, untuk meminjam mikrofon dan pengeras suara.

Sudiro yang pada waktu itu juga merangkap sebagai sekretaris Ir. Sukarno memerintahkan kepada S. Suhud (Komandan Pengawal Rumah Ir. Sukarno) untuk menyiapkan tiang bendera. Suhud kemudian mencari sebatang bambu di belakang rumah. Bendera yang akan dikibarkan sudah dipersiapkan oleh Nyonya Fatmawati.

Menjelang pukul 10.30 para pemimpin bangsa Indonesia telah berdatangan ke Jalan Pegangsaan Timur. Diantara mereka nampak Mr. A.A. Maramis, Ki Hajar Dewantara, Sam Ratulangi, K.H. Mas Mansur, Mr. Sartono, M. Tabrani, A.G. Pringgodigdo dan sebagainya. Adapun susunan acara yang telah dipersiapkan adalah sebagai berikut:

Pertama, Pembacaan Proklamasi;

Kedua, Pengibaran Bendera Merah Putih;

Ketiga, Sambutan Walikota Suwirjo dan Muwardi.

Lima menit sebelum acara dimulai, Bung Hatta datang dengan berpakaian putih-putih. Setelah semuanya siap, Latief Hendraningrat memberikan aba-aba kepada seluruh barisan pemuda dan mereka pun kemudian berdiri tegak dengan sikap sempurna. Selanjutnya Latif mempersilahkan kepada Ir. Sukarno dan Moh. Hatta. Dengan suara yang mantap Bung Karno mengucapkan pidato pendahuluan singkat yang dilanjutkan dengan pembacaan teks proklamasi.

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatkannya pada tali dengan bantuan Cudanco Latif Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa dikomando para hadirin spontan menyanyikan Indonesia Raya. Acara selanjutnya adalah sambutan dari Walikota Suwirjo dan dr. Muwardi.

Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

merupakan sebuah peristiwa yang sangat penting dan patut dikenang sepanjang hayat bagi warga negara indonesia, karena dengan adanya proklamasi kemerdekaan tersebut, maka bangsa Indonesia telah lahir sebagai bangsa dan negara yang merdeka.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mempunyai makna apabila dilihat dari beberapa sudut pandang, berikut adalah Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

 

Apabila dilihat dari sudut hukum

Proklamasi merupakan pernyataan yang berisi keputusan bangsa Indonesia untuk menetapkan tatanan hukum nasional (Indonesia) dan menghapuskan tatanan hukum kolonial.

Apabila dilihat dari sudut politik

Proklamasi merupakan pernyataan bangsa Indonesia yang lepas dari penjajahan dan membentuk Negara Republik Indonesia yang bebas, merdeka, dan berdaulat penuh.

Proklamasi menjadi alat hukum internasional

Untuk menyatakan kepada rakyat dan seluruh dunia, bahwa bangsa Indonesia mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri untuk menggenggam seluruh hak kemerdekaan.

Proklamasi merupakan mercusuar

Yang menunjukkan jalannya sejarah, pemberi inspirasi, dan motivasi dalam perjalanan bangsa Indonesia di semua lapangan di setiap keadaan.

Makna Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan puncak perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan.

Penyebaran Berita  Proklamasi  1.

Berita proklamasi yang sudah meluas di seluruh Jakarta disebarkan ke seluruh Indonesia. Pagi hari itu juga, teks proklamsi telah sampai di tangan Kepala Bagian Radio dari Kantor Berita Domei, Waidan B. Palenewen. Segera ia memerintahkan F. Wuz untuk menyiarkan tiga kali berturut-turut. Baru dua kali F. Wuz menyiarkan berita itu, masuklah orang Jepang ke ruangan radio. Dengan marah-marah orang Jepang itu memerintahkan agar penyiaran berita itu dihentikan. Tetapi Waidan memerintahkan kepada F. Wuz untuk terus menyiarkannya. Bahkan berita itu kemudian diulang setiap setengah jam sampai pukul 16.00 saat siaran radio itu berhenti. Akibatnya, pucuk pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan untuk meralat berita itu. Dan pada hari Senin tanggal 20 Agustus 1945 pemancar itu disegel dan pegawainya dilarang masuk.

Walaupun demikian para tokoh pemuda tidak kehilangan akal. Mereka membuat pemancar baru dengan bantuan beberapa orang tehnisi radio, seperti : Sukarman, Sutamto, Susilahardja dan Suhandar. Sedangkan alat-alat pemancar mereka ambil bagian-demi bagian dari kantor betita Domei, kemudian dibawa ke Jalan Menteng 31. Maka terciptalah pemancar baru di Jalan Menteng 31. Dari sinilah seterusnya berita proklamasi disiarkan.

Selain lewat radio, berita proklamasi juga disiarkan lewat pers dan surat selebaran. Hampir seluruh harian di Jawa dalam penerbitannya tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Upaya Penyebarluasan Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia  ( 2 )

Setelah Proklamasi berita kemerdekaan Indonesia segera menyebar di Jakarta dan selanjutnya disebarkan ke seluruh Indonesia. Penyambutan berita Proklamasi terbukti dengan adanya pelucutan senjata pasukan Jepang, pengambil alihan pucuk pimpinan dan semangat terus berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Penyebarluasan berita Proklamasi tersebut dilakukan melalui :

o Radio kantor berita Jepang, Domai yang berhasil dikacaukan. Berita proklamasi tersebut tersiar pada tanggal 17 Agustus 1945 sebanyak tiga kali. Bahkan setiap 30 menit hingga siaran berakhir pukul 16.00 berita tersebut terus diulang. Berita kemerdekaan Indonesia akhirnya dapat tersebar hingga ke luar negeri melalui jaringan Jepang sendiri. Berita kemerdekaan Indonesia tersebut terus tersebar kemana-mana.

o Surat Kabar, surat kabar yang pertama menyebarkan berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah Tjahaja di Bandung dan Soeara Asia di Surabaya. Hampir seluruh harian di jwa dalam penerbitan tanggal 20 Agustus 1945 memuat berita proklamasi dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia.

o Selebaran yang disebarkan di penjuru kota.

o Spanduk dan Pamflet dipasang ditempat-tempat strategis yang mudah dilihat khalayak ramai.

o Aksi corat-coretan pada tembok-tembok atau bahkan pada gerbong-gerbong kereta api.

o Penyebaran berita dari mulut ke mulut secara beranting, salah satu kelompok yang terkemuka yaitu   kelompok Sukarni yang bermarkas di Jalan Bogor.

o Berita Proklamasi disiarkan ke daerah-daerah melalui utusan daerah yang kebetulan waktu itu mengikuti sidang PPKI dan menyaksikan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, diantaranya

Teuku Moh. Hasan (Sumatra), Sam Ratulangie (Sulawesi), I Gusti Ketut Puja (Sunda Kecil/Nusa Tenggara), Hamidhan (Kalimantan), Latuharhary (Maluku)

o Pengiriman delegasi ke Negara-negara sahabat untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan, misalnya Mr. Pilar dan Mr. A.A Maramis ke India guna mendapat dukungan atas kemerdekaan RI.

Untuk  mempermudah pemahaman materi dapat digunakan  bentuk berikut !

Keadaan dan kebijakan ekonomi awal proklamasi Kembali ke NKRI DAN GANGGUAN KEAMANAN Mempertahankan proklamasi 1 Mempertahankan proklamasi 2 Peristiwa sekitar prklamasi

Dibawah ini dipaparkan beberapa peristiwa secara berulang-ulang  berkaitan dengan  Peristiwa di sekitar Proklamasi.

Untuk seluruh siswa kelas XII IPS, silahkan membacanya, kemudian  buatlah kesimpulan yang terdiri dari  :

1. BPUPKI

    > Pengertiannya, latar belakang pembentukannya, Tujuan pembentukannya, hasil yang dicapai oleh BPUPKI  ( sebagai materi    minimal yang diharapkan dapat terkuasai, silahkan menambahkan  materi lainnya, tetapi  dapat dipahami dengan baik.

    > PPKI   ( sama dengan  BPUPKI )

   > Peristiwa Rengas Dengklok  ( latar belakang, tujuan, penyelesaian )

   > Detik-detik Proklamasi.

   > Hafal bunyi  teks Proklamasi 

   > Yang lainnya menyusul.

 

PEMBENTUKAN BPUPKI

Pada akhir tahun 1944, kedudukan Jepang semakin terdesak. Jepang selalu menderita kekalahan dalam Perang Asia-Pasifik. Bahkan di Indonesia berkobar perlawanan yang dilakukan rakyat maupun tentara PETA  Keadaan  jepang semakin buruk, moral masyarakat menurun. Hal-hal yang tidak menguntukan menyebabkan jatuhnya Kabinet Tojo pada tanggal 17 Juli 1944, dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso.

Pada 7 september 1944, di dalam sidang istimewa Parlemen Jepang di Tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa daerah Hindia Timur (indonesia) diperkenan merdeka kelak di kemudian hari. Pada tahun 1944, Pulau Saipan direbut oleh sekutu. Angkatan perang Jepang dipukul mundur angkatan perang Amerika Serikat dari Papua Nugini, kepulauan Solomon, dan kepulauan Marshall, maka seluruh garis pertahanan Jepang di Pasifik mulai hancur berarti kekalahan Jepang di ambang pintu. Sekutu terus menyerbu kota-kota di Indonesia seperti Ambon, Makassar, Manado, dan Surabaya. Akhirnya tentara Sekutu mendarat di kota penghasil minyak yakni Tarakan dan Balikpapan.

Menghadapi situsi yang gawat tersebut, pemerintah pendudukan Jepang di Jwa di bawah pimpinan Letnan Jenderal Kumakici Harada berusaha menyakinkan bangsa Indonesia tentang janji kemerdekaan. Pada 1 Maret 1945, diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepangnya Sokuritsu Zunbi Coosakai. Maksud dan tujuan dibentuknya BPUPKI ialah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka.

Ketua BPUPKAI adalah Dr K.R.T. Radjiman Wedioningrat. dibantu 2 orang ketua muda, yaitu seorang Jepang Shucokan Cirebon bernama Icibangase dan R.P. Suroso sebagai kepala sekretariat dengan dibantu oleh Toyohito Masuda dan MrlA.G. Pringgodigdo. Anggota BPUPKI ada 40 orang termasuk 4 orang golongan Arab serta golongan peranakan Belanda dan terdapat pula 7 orang Jepang dalam pengurus istimewa yakni tanpa hak suara, sehingga seluruhnya berjumlah 63 orang.
BPUPK+ ini dilantik pada 28 Mei 1945, di gedung Cuo Sangi In yang dihadiri oleh seluruh anggota BPUPKI dan dua pembesar Jepang, yakni Jenderal Itagaki dan Jenderal Yaiciro Nagano.

Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Cosakai dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Dokuritsu Junbi Chōsakai adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan balatentara Jepang pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito. Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 67 orang yang diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.

Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Pandji Soeroso dengan wakil Mr. Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda Toyohiko (orang Jepang). Tugas dari BPUPKI sendiri adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek poplitik, ekonomi, tata pemerintahan, dan hal-hal yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPKI dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota berjumlah 21 orang, sebagai upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di wilayah Hindia-Belanda, terdiri dari: 12 orang asal Jawa, 3 orang asal Sumatera, 2 orang asal Sulawesi, 1 orang asal Kalimantan, 1 orang asal Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 orang asal Maluku, 1 orang asal etnis Tionghoa.

 

Peristiwa Rengasdengklok

 

Bung Karno dan sejumlah Menteri

16 Agustus 1945. Pagi-pagi buta, sekitar pukul 04.30 WIB, sekelompok pemuda revolusioner membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Di sana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemuda merundingkan Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut versi sejarah resmi, peristiwa itu adalah aksi pemuda “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta. Kejadian itu, katanya, merupakan buntut dari silang pendapat antara golongan tua versus muda mengenai Proklamasi Kemerdekaan.

Dalam versi sejarah resmi dikatakan, golongan tua terlalu kompromis dan hanya menunggu hadiah kemerdekaan dari Jepang. Sebaliknya, golongan muda menginginkan proklamasi segera dilakukan dan tidak rela kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang.

Bung Karno dan Bung Hatta dianggap representasi golongan tua. Sementara di golongan pemuda ada nama-nama seperti Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Aidit, Sidik Kertapati, Darwis, Suroto Kunto, AM Hanafie, Djohar Nur, Subadio, dan lain-lain.

Saya pikir, ada beberapa hal yang janggal dari penjelasan sejarah ini. Dengan penggunaan kata “penculikan”, saya membayangkan pengambilan paksa dan penghilangan kemerdekaan si bersangkutan. Yang jadi pertanyaan, benarkah Bung Karno dan Bung Hatta dibawa paksa dan kehilangan kemerdekaannya?

Saya membaca buku Sidik Kertapati, Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945. Sidik Kertapati adalah seorang aktor dari peristiwa itu. Dalam penjelasannya, Sidik Kertapati jelas-jelas menggunakan istilah “pengamanan tokoh nasional”. Menurutnya, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa keluar kota agar mereka terhindar dari Jepang dalam membicarakan tugas mereka yang historis, yakni Proklamasi Kemerdekaan.

Kenapa Rengasdengklot?  Karena daerah itu sejak lama sudah menjadi pusat gerakan anti-fasis. Di sana, kata Kertapati, adan kelompok anti-fasis bernama “Sapu Mas”, yang dipimpin oleh seorang perwira PETA, Syudanco Umar Bahsan.

Kalau kita baca kronologi versi Sidik Kertapati, ketika pemuda berupaya membawa Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota, tidak ada pemaksaan dan penghilangan kemerdekaan. Ketika itu, sekitar pukul 04.00 WIB, Bung Karno masih tertidur di kediamannya di Pegangsaan Timur 56 Cikini. Ia dibangunkan oleh Chaerul Saleh.

“Keadaan sudah memuncak. Kegentingan harus diatasi,” ujar Chaerul Saleh kepada Bung Karno. “Orang-orang Belanda dan Jepang sudah bersiap menghadapi kegentingan itu. Keamanan Jakarta tidak bisa ditanggung lagi oleh pemuda dan karena itu supaya Bung Karno bersiap berangkat keluar kota,” tambahnya.

Ketika Bung Karno dan rombongan tiba di Rengasdengklot, para pemuda PETA menyambut dengan pekik “Hidup Bung Karno!”, “Indonesia Sudah Merdeka!”, dan lain-lain. Artinya, kalau penculikan, tak mungkin ada penyambutan seperti itu.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, ada pertemuan di Asrama Baperki (Badan Perwakilan Pelajar Indonesia) di Tjikini 71. Sejumlah tokoh pemuda hadir, seperti Chaerul Saleh, Wikana, Aidit, Djohan Nur, Subadio, Suroto Kunto, dan lain-lain.

Hasil pertemuan itu: Kemerdekaan Indonesia harus dinyatakan melalui Proklamasi. Putusan tersebut akan disampaikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta agar mereka atas nama Rakyat Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaan itu. Artinya, para pemuda menginginkan agar Proklamasi dinyatakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Dalam pertemuan itu juga, seperti diungkapkan Sidik Kertapati, Aditi mengusulkan agar Bung Karno ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia.

Rapat itu kemudian mengutus Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto untuk menemui Bung Karno di kediamannya. Wikana bertindak sebagai Jubir pemuda. Utusan pemuda itu mendesak Bung Karno agar menyatakan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus 1945.

Menanggapi permitaan pemuda, Bung Karno menyatakan bahwa dirinya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ia meminta diberi kesempatan untuk berunding dengan pemimpin lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan.

Perundingan antar tokoh pemimpin berlangsung saat itu juga. Beberapa saat kemudian, Bung Hatta keluar menemui pemuda untuk menyampaikan hasil perundingan, bahwa usul para pemuda tidak bisa diterima karena dianggap kurang perhitungan dan akan memakan banyak korban jiwa.

Muncul pertanyaan lain: apakah bila Bung Karno menolak usulan pemuda, lantas niat proklamasi terhenti juga? Sidik Kertapati memberi jawaban. Menurutnya, kemungkinan tidak ikut sertanya Bung Karno dan Bung Hatta dalam aksi kemerdekaan sudah diperhitungkan. Sebagai alternatifnya: Proklamasi akan dilakukan melalui Presidium Revolusi. Artinya, para pemuda sudah punya Plan B. Hanya saja, memang, rencana sangat memungkinkan dengan aksi revolusioner dan kekuatan senjata.

Namun, justu dengan adanya penolakan awal oleh Bung Karno dan Bung Hatta terhadap proposal pemuda dan juga adanya plan B, saya berkesimpulan bahwa keputusan membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklot adalah upaya pengamanan. Meskipun, pada kenyataannya, proses diskusi dan perdebatan antara pemuda dan Bung Karno masih berlanjut di Rengasdengklot.

Versi Sidik Kertapati ini mirip dengan penjelasan Aidit. Juga pernyataan Jusuf Kunto, anggota PETA yang terlibat peristiwa itu. Kepada Mr Subardjo, Yusuf Kunto mengatakan, bahwa alasan mereka membawa Bung Karno dan Hatta adalah karena rasa kekhawatiran bahwa mereka akan dibunuh oleh pihak Angkatan Darat Jepang atau paling sedikitnya dipergunakan sebagai sandera kalau kerusuhan timbul. Maklum, kata Yusuf Kunto, pada tanggal 16 Agustus 1945, pemudan dan PETA merencanakan melaksanakan aksi revolusi.

Dari cerita di atas, saya berusaha mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, inisiatif pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklot bukanlah penculikan, melainkan pengamanan. Alasannya, pada tanggal 16 Agustus itu, pemuda merencanakan “Aksi Revolusi” untuk memproklamasikan kemerdekaan. Memang, pada kenyataannya, aksi revolusi itu tidak terjadi.

Kedua, perbedaan antara Bung Karno dan pemuda adalah soal kemerdekaan adalah soal cara. Bung Karno menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui jalur aman, yakni PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat Indonesia. Sedangkan pemuda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa rakyat.

Proklamasi Kemerdekaan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia. Bukan oleh PPKI—sesuai dengan keinginan pemuda.

 

Sejarah Peristiwa Rengasdengklok

Usaha-usaha tokoh pendiri bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan ternyata melewati berbagai ham batan dan rintangan yang terhitung sangat rumit. Pada pelaksanaannya, ternyata rintangan yang dihadapi itu bukan saja dari kaum penjajah, tetapi juga rintangan yang datang dari kaum pribumi itu sendiri. Seperti peristiwa Rengasdengklok. Yuk kita simak ceritanya…

Seperti adanya perbedaan pendapat mengakibatkan ter pecahnya organisasi, adanya unsur kedaerahan juga menjadi faktor penghambat persatuan. Contohnya bisa kalian lihat dari berbagai tindakan tokoh partai politik dan organisasi yang banyak berhenti atau mengundurkan diri dari kepartaiannya.

Bahkan sampai menjelang hari kemerdekaan pun perbedaan pendapat di kalangan pendiri bangsa masih saja terjadi.

Jalan terang menuju Indonesia menjadi negara merdeka semakin mendekat, terutama setelah tersebarnya berita kehancuran Jepang dalam Perang Pasifik. Namun, berita tersebut sangat sedikit diketahui oleh bangsa Indonesia karena kebijakan Jepang berupa:

  1. memutuskan jalur komunikasi lewat radio,
  2. pihak dinas propaganda Jepang selalu memberikan informasi berita peristiwa kemenangan Jepang dalam Perang Pasifik.

Namun demikian, kekalahan Jepang dan menyerah kepada tentara sekutu pada 14 Agustus 1945 informasinya dapat diterima lewat berita yang disiarkan BBC (Inggris) di Bandung. Informasi ini pun didengar oleh pemuda-pemudi yang tergabung dalam Angkatan Baru Indonesia dan segera mereka mengadakan pertemuan-pertemuan. Pada 15 Agustus 1945 mereka berkumpul di ruang belakang Laboratorium Bakteriologi Jalan Pegangsaan Timur 13 Jakarta. Mereka membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri yang tidak bergantung pada bangsa atau negara lain.

Pada saat itu bersamaan juga dengan kepulangan ketiga tokoh bangsa Indonesia dari Saigon. Golongan muda menginginkan agar adanya pengumuman tentang kemerdekaan Indonesia untuk dilakukan secepatnya tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah Jepang. Tetapi Ir. Soekarno atas nama golongan tua menolak hal itu dengan berbagai usulannya, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dilakukan secara terorganisasi dan direncanakan akan ditentukan pada rapat PPKI pada 18 Agustus 1945. Namun Moh. Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan Indonesia diperoleh sendiri atau pemberian dari pemerintah Jepang tidak perlu dipermasalahkan. Jepang memang sudah tidak memiliki kekuatan lagi, karena kalah dalam perang, tetapi yang harus diperhatikan adalah sekutu yang berusaha ingin mengembalikan Belanda ke Indonesia.

Ternyata masukan dari kedua tokoh golongan tua itu tidak ditanggapi oleh golongan muda, mereka tetap pada prinsip semula yaitu ingin saat itu juga mengumandangkan pernyataan bahwa Indonesia telah merdeka. Sehingga terjadinya kesalahpahaman tentang golongan tua dan golongan muda saat berbicara mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut memicu golongan muda untuk mengamankan Soekarno dan Moh. Hatta ke luar kota agar mereka berdua tidak mendapat pengaruh dari pemerintah Jepang. Para pemuda membawa kedua tokoh itu ke sebuah rumah di daerah sebelah timur Jakarta, tempat yang dimaksud adalah Rengasdengklok (sebuah kota kecil yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Karawang-Jawa Barat). Kota ini dipilih karena alasan teknis dirasa aman dari pengawasan Jepang dan jauh dari jalan raya yang menghubungkan Jakarta– Cirebon, sehingga golongan muda mudah mengawasi ketika ada pemerintah Jepang yang mencoba datang ke Rengasdengklok.

Setibanya di Rengasdengklok golongan muda terus kepada Ir. Soekarno dan Moh. Hatta untuk memprokla masikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada pengaruh pemerintah Jepang, namun tetap saja tidak berhasil. Rupa nya kedua orang tersebut memiliki kewibawaan sehingga sepertinya golongan muda pun tidak berhasil untuk membujuknya. Tetapi saat pembicaraan Shodanco Singgih dengan Bung Karno, ternyata beliau siap untuk mem proklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan secepatnya setelah mereka berdua kembali ke Jakarta. Setelah men dengar pernyantaan tersebut, Ir. Soekarno–Shodanco Singgih berangkat ke Jakarta untuk menyiarkan rencana proklamasi kepada rekan-rekannya. Karena sudah dicapai kesepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta, maka Jusuf Kunto dari golongan pemuda mengantarkan Ahmad Subardjo untuk menjemput Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dan tiba di Jakarta pada 16 Agustus 1945 pukul 18.00 waktu Jepang (17.30), yang sebelumnya di Rengasdengklok Ahmad Subardjo memberi jaminan supaya proklamasi dilaksanakan keesokan harinya yaitu pada 17 Agustus 1945.

A. PEMBENTUKAN PPKI

Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan. Sebagai gantinya pemerintah pendudukan Jepang membentuk PPKI (Dokuritsu Junbi Inkai). Sebanyak 21 anggota PPKI yang terpilih tidak hanya terbatas pada wakil-wakil dari Jawa yang berada di bawah pemerintahan Tentara Keenambelas, tetapi juga dari berbagai pulau, yaitu : 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatera, 2 wakil dari Sulawesi, seorang dari Kalimantan, seorang dari Sunda Kecil (Nusatenggara), seorang dari Maluku dan seorang lagi dari golongan penduduk Cina. Ir. Sukarno ditunjuk sebagai ketua PPKI dan Drs. Moh. Hatta ditunjuk sebagai wakil ketuanya. Sedangkan Mr. Ahmad Subardjo ditunjuk sebagai penasehatnya.

Kepada para anggota PPKI, Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto menegaskan bahwa para anggota PPKI tidak hanya dipilih oleh pejabat di lingkungan Tentara Keenambelas, akan tetapi oleh Jenderal Besar Terauci sendiri yang menjadi penguasa perang tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Dalam rangka pengangkatan itulah, Jenderal Besar Terauci memanggil tiga tokoh Pergerakan Nasional, yaitu Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada tanggal 9 Agustus 1945 mereka berangkat menuju markas besar Terauci di Dalat, Vietnam Selatan. Dalam pertemuan di Dalat pada tanggal 12 Agustus 1945 Jenderal Besar Terauci menyampaikan kepada ketiga tokoh itu bahwa Pemerintah Kemaharajaan telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah persiapannya selesai oleh PPKI. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

Ketika ketiga tokoh itu berangkat kembali menuju Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah dibom atom oleh Sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki. Bahkan Uni Soviet mengingkari janjinya dan menyatakan perang terhadap Jepang seraya melakukan penyerbuan ke Manchuria. Dengan demikian dapat diramalkan bahwa kekalahan Jepang akan segera terjadi. Keesokan harinya, pada tanggal 15 Agustus 1945 Sukarno-Hatta tiba kembali di tanah air.

Dengan bangganya Ir. Sukarno berkata : “Sewaktu-waktu kita dapat merdeka; soalnya hanya tergantung kepada saya dan kemauan rakyat memperbarui tekadnya meneruskan perang suci Dai Tao ini. Kalau dahulu saya berkata ‘Sebelum jagung berbuah, Indonesia akan merdeka : sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka, sebelum jagung berbuah.” Perkataan itu menunjukkan bahwa Ir. Sukarno pada saat itu belum mengetahui bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

B. SIDANG PPKI SEKALIGUS PEMBENTUKAN BADAN KELENGKAPAN NEGARA

Pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI melakukan rapat yang membahas :

1. Penetapan dan pengesahan Pembukaan UUD 1945

2. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden

3. Pembentukan Badan Komite Nasional sebagai pembantu presiden

Pada tanggal 19 Agustus 1945 PPKI mengadakan rapat lanjutan yang menghasilkan :

1. Penetapan 12 menteri yang membantu tugas presiden

2. Membagi wilayah Indonesia menjadi 8 Propinsi

Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI mengadakan rapat lanjutan yang menghasilkan :

Untuk menghadapi kekuatan Jepang dan Sekutu pemerintah Indonesia membentuk Badan Kemanan Rakyat ( BKR ) pada tanggal 22 Agustus 1945 yang berada di bawah wewenang KNIP. Oleh karena datangnya pasukan Sekutu dan NICA yang silih berganti sehingga pemerintah memutuskan dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) pada tanggal 5 Oktober 1945.Pada tanggal 1 Januari 1946 diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat ( TKR ) lalu tanggal 26 Januari berubah menjadi Tentara Republik Indonesia ( TRI ). Untuk menyempurnakan TRI maka pemerintah membentuk Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) tanggal 7 Juni 1947.

Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan Jepang. Untuk menindaklanjuti
hasil kerja BPUPKI, Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Lembaga tersebut dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai.
PPKI beranggotakan 21 orang yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mereka terdiri atas 12 orang wakil dari Jawa, 3 orang wakil dari Sumatera, 2 orang wakil dari Sulawesi, dan seorang wakil dari Sunda Kecil, Maluku serta penduduk Cina. Ketua PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, menambah anggota PPKI enam orang lagi sehingga semua anggota PPKI
berjumlah 27 orang.

 

 

 

ir.soekarno

   PPKI dipimpin oleh Ir. Sukarno, wakilnya Drs. Moh. Hatta, dan penasihatnya Ahmad Subarjo. Adapun anggotanya adalah Mr. Supomo, dr. Rajiman Wedyodiningrat, R.P. Suroso, Sutardjo, K.H. Abdul Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Oto Iskandardinata, Suryohamijoyo, Abdul Kadir, Puruboyo, Yap Tjwan Bing, Latuharhary, Dr. Amir, Abdul Abbas, Teuku Moh. Hasan, Hamdani, Sam Ratulangi, Andi Pangeran, I Gusti Ktut Pudja,

PERISTIWA-PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS1945

1. Peristiwa-peristiwa Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang Proklamasi Kemerdekaan antara lain:

 A. JEPANG MENYERAH KEPADA SEKUTU 

Akibat pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerikamengakibatkan Jepang kehilangan kekuatan, sehingga Jepang menyerah tanpasyarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Pada pertemuan di Saigon(Vietnam) tanggal 11 Agustus 1945 pukul 11.40 waktu setempat kepada para pemimpin bangsa Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. RadjimanWediodiningrat), Jenderal Besar Terauchi menyampaikan hal-hal berikut  :

1) Pemerintah Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada bangsaIndonesia.

2) Untuk melaksanakan kemerdekaan dibentuk  PPKI sebagai pengganti  BPUPKI.

3) Pelaksanaan kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukandan secara berangsur- angsur dari Pulau Jawa, baru disusul oleh pulau lainnya.4) Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.5) Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan

      Panitia PersiapanKemerdekaan Indonesia (PPKI) atau  Docuritsu  Junbi Inkai.

      PPKI diketuai Ir.Soekarno dan wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta.

 B. PERISTIWA RENGASDENGKLOK 

 Setelah mendengar berita Jepang menyerah kepada Sekutu,bangsa Indonesiamempersiapkan dirinya untuk merdeka. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan sebaik- baiknya. Perundingan-perundingan diadakan di antara para pemuda dengan tokoh-tokohtua, maupun di antara para pemuda sendiri. Walaupun demikian, di antara tokoh pemudadengan golongan tua sering terjadi perbedaan pendapat, akibatnya terjadilah

“PeristiwaRengasdengklok”

Pada tanggal 16 Agustus pukul 04.00 WIB,  Bung Hatta dan Bung  Karno beserta Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno Poetra dibawa pemuda ke Rengasdengklok, kota kawedanan di pantai utara Kabupaten Karawang, tempatkedudukan cudan (kompi) tentara Peta. Tujuan peristiwa ini dilatarbelakangi olehkeinginan. pemuda yang mendesak golongan tua untuk segera memproklamirkankemerdekaan Indonesia. Pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta keRengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Setelah melalui perdebatan dan ditengah-tengahi Ahmad Soebardjo, menjelang malam hari, kedua tokoh itu akhirnyakembali ke Jakarta. Rombongan Soekarno–Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa zaman Jepang (pukul 23.00 WIB) . Soekarno-Hatta setelah singgah di rumahmasing masing, kemudian bersama rombongan lainnya menuju

rumah LaksamanaMaeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta . (tempat Ahmad Soebardjo bekerja) untuk merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Malam itu juga segera diadakanmusyawarah. Tokoh tokoh yang hadir saat itu ialah  Ir. Soekarno, Drs. Mohammad  Hatta, Ahmad Soebardjo, para anggota PPKI, dan para tokoh pemuda, seperti Sukarni,Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro. Tokoh-tokoh yang merumuskan teks proklamasi berada di ruang makan. Adapun tokoh yang menulis teks proklamasi adalah Ir. Soekarno,

Sedangkan Drs. Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo turut mengemukakan ide-idenya secara lisan. Perumusan teks proklamasi sampai dengan penandatanganannya baruselesai pukul 04.00 WIB pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945.

Pada saat itu juga telahdiputuskan bahwa teks proklamasi akan dibacakan di halaman

rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada pagi hari pukul 10.00 WIB.

Penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia semula akan dilakukan di Hotel DesIndes. Namun pada saat itu ada aturan yang melarang adanya kegiatan rapat setelah pukul 22.00 WIB, akhirnya dipindah ke rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

 

2. Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pelaksanaan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada hariJum’at tanggal 17 Agustus 1945. Sejak pagi telah dilakukan persiapan di rumah Ir.Soekarno, untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh pergerakan nasional beserta rakyat berkumpul di tempat itu. Mereka ingin menyaksikan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.Sesuai kesepakatan yang diambil di rumah Laksamana Maeda, para tokohIndonesia menjelang pukul 10.30 waktu Jawa zaman Jepang atau 10.00 WIB telah berdatangan ke rumah Ir. Soekarno. Mereka hadir untuk menjadi saksi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Acara yang disusun dalam upacara di kediaman 1r. Soekarno itu, antara lainsebagai berikut:

A. PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA.

B. PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH.

C. SAMBUTAN WALI KOTA SUWIRYO DAN DR. MUWARDI.

Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung tanpa protokol. Latief Hendraningrat memberi aba-aba siap kepada seluruh barisan pemuda. Semua yanghadir berdiri tegak dengan sikap sempurna. Suasana menjadi sangat hening. Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipersilakan maju beberapa langkah dari tempatnyasemula. Ir. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang mantap, Ir.Soekarno dan didampingi Drs. Moh. Hatta membacakan teks proklamasi.

PERISTIWA-PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

1. Berita Kekalahan Jepang dalam Asia-Pasifik

Memasuki tahun 1945 kedudukan Jepang terus terdesak oleh tentara sekutu di dalam Perang Asia Timur Raya (Perang Asia-Pasifik). Satu per satu daerah kekuasaan Jepang Jatuh ke Tangan tentara Amerika Serikat. Bahkan, Pada pertengahan tahun 1945 Jepang benar-benar tidak mampu lagi memberikan perlawanan. Keadaan itu membuat Jepang tidak menyerah. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Agustus 1945 tentara Amerika menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima. Menyusul tanggal 9 Agustus 1945 Tentara Amerika Serikat membom Kota Nagasaki. Akibatnya, ke dua Kota penting Jepang hancur.

                Jepang pun lumpuh dan tidak berkutik. Akhirnya, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Namun, upacara penyerahan secara resmi baru akan dilaksanakan pada tanggal 2 September 1945. Penyerangan itu dilakukan de kapal perang USS Missouri milik Amerika Serikat yang sedang merapat di teluk Tokyo.

                Peristiwa penyerahan tanggal 4 Agustus 1945 itu dirahasiakan oleh Jepang. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang di daerah pendudukan termasuk Indonesia tidak mengetahui peristiwa tersebut.

2. Kegiatan para Pemuda setelah Jepang Menyerah

                Para pemuda sepakat untuk menemui Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta. Mereka mendesak agar kedua tokoh itu mau menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, Bung Karno dan Bung Hatta tidak bersedia memenuhi tuntutan para Pemuda tersebut. Kedua tokoh itu berpendapat bahwa masalah proklamasi harus di bicarakan dengan anggota PPKI. Pandangan Bung Karno dan Bung Hatta yang semacam itu ditolak oleh para Pemuda.

                Tokoh-tokoh Pemuda menginginkan agar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak dilakukan PKI. Menurut para pandangan Pemuda PPKI adalah lembaga pembentukan Jepang. Oleh karena itu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus di lakukan oleh tokoh-tokoh bangsa Indonesia bukan oleh PPKI. .

                Mereka gagal mendesak Bung karno dan Bung Hatta untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda kembali berkumpul di jalan Cikini Nomor 71 untuk membahas langkah-langkah berikutnya.  Pertemuan dilaksanakan pada hari Rabu sekitar pukul 9 sampai 10 malam tanggal 15 Agustus 1945. Beberapa tokoh pemuda saat itu, antara lain Sukarni, Singgih, Wikana, Chaerul Saleh, B.M. Diah, Yusuf Kunto, dan Adam Malik. 

3. Peristiwa Rengasdengklok

                Para pemuda itu bergerak dengan sigap. Setelah mobil dan beberapa pengawal dari Peta siap, para pemuda segera mendatangi rumah Bung hatta dan Bung Karno. Wikana dan Darwis diserahi tugas menjemput Bung Karno dan Bung Hatta.  Kamis, 16 Agustus 1945 rombongan para Pemuda yang telah membawa I.R Soekarno dan Drs. Moh. Hatta bergerak kea rah timur, yaitu ke Rengasdengklok.

                Rengasdengklok adalah kota kecamatan yang terletak di sebelah utara Karawang. Daerah rengasdengklok ini kebetulan sudah di kuasai oleh pasukan Peta di bawah pimpinan Shudanco Singgih. Oleh karena itu, keamanan di Rengasdengklok lebih terjamin.

                Kamis, 16 Agustus 1945, Rombongan IR. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sampai di Rengasdengklok. Rombongan kemudian di terima oleh Shudanco Subeno. Maka ditempatkan di rumah milik Djiaw Kie Song di Desa Rengasdengklok, tidak jau dari sungai Citarum.

                Di Rengasdengklok Bung Karno dan Bung Hatta tetap belum bersedia menyatakan kemerdekaan Indonesia hari itu juga. Yusuf Kunto yang berperang sebagai penghubung. Kembali ke Jakarta untuk mengetahui perkembangan situasi. Ternyata situasi di Jakarta sedang menghangat. Tanggal 16 Agustus 1945 PPKI akan bersidang, tetapi Bung Karno dan Bung Hatta dan wakil ketua PPKI tidak ada di tempat. Ahmad Subarjo berusaha mencari dan bertemu Yusuf Kunto. Ahmad Subarjo bersama Yusuf Kunto pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombonganya.

                Ahmad Subarjo mendesak para pemuda agar membantu Sukarno – Hatta kembali ke Jakarta.ahmad Subarjo kemudian memberikan jaminan kepada para pemuda. Beliau menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan di laksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 kalau Bung Karno dan Bung Hatta dapat kembali pada saat itu juga. Ahmad Subaro mengatakan, kalau sampai pukul 12.00 tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi itu belum juga terjadi, nyawanya akan menjadi jaminan. Akhirnya Ir. Soekarno dan Drs. Muh. Hatta beserta rombongan kembali ke Jakarta.

4. Perumusan Teks Proklamasi

                Malam hari pukil 23.00 tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta beserta rombongan tiba di Jakarta. Setelah mengantarkan Ibu fatmawati dan Guntur, Bung Karno dan kawan-kawan pergi ke rumah Laksamana Maeda. Di rumah Maeda ini mereka mengumpulkan anggota PPKI dan tokoh-tokoh pergerakan serta para pemuda.

                Sebelum mengadakan pertemuan di rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan muh. Hatta sebelumnya pergi menemui pemimpin tentara Jepang, Mayor Jendral Nashimura untuk menyatakan pendapat dan sikapnya tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

                Nashimura mengatakan tidak bertanggung jawab dan menyerahkan kepada Soekarno dan Moh. Hatta. Mengetahui sikap pemimpin Jepang, mereka segera mengadakan pertemuan. Soekarno, moh. Hatta, dan Ahmad Subarjo kemudian masuk di sebuah ruangan (ruang makan keluarga maeda) yang di ikuti Sukarni, Sayuti Malik, dan B.M. Diah.

                Di ruang makan keluarga Maeda itulah, Ir. Soekarno, DrS. Moh. Hatta, dan Ahmad Soebarjo merumuskan teks Proklamasi. Perumusan itu di saksikan oleh Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah. Setelah semuanya sepakat, konsep teks Proklamasib itu deserahkan kepada Sayuti Malik untuk di ketik. Teks Proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik inilah yang dikenal dengan teks proklamasi yang autetik (resmi).

5. Pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan Indonesia

                Sejak pagi hari, halaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56 sudah sangat sibuk. Suwiryo selaku Wakil Wali Kota Jakarta tampak sibuk. Suhud, seorang anggota Barisan Pelopor ditugasi untuk mencari tiang bendera dan menyiapkan bendera Merah Putih. Untuk tiang bendera menggunakan sebatang bamboo., sedangkan bendera Merah – Putih di beroleh dari Ibu Fatmawati yang di jahit sendiri olehnya.

                Pukul 10.00 acara di mulai. Acara dibuka dengan pdato Ir. Soekarno sebagai penghantar. Selanjutnya, Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi yang telah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Muh. Hatta. Adapun bunyi teks proklamasi itu adalah sebagai berikut:

 

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,

Di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta

 

                Setelah pembacaan proklamasi, dilakukan pengibaran bendera Merah Putih. Pengibaran bendera Merah Putih ini dilakukan oleh seorang mantan komandan Peta, Latif Hendraningrat dibantu oleh S. Suhud. Tanpa di komando, bersamaan dengan naiknya bendera Merah Putih itu para hadirin mengumandangkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman.

 

 

diambil dari berbagai sumber ! 

 

Sebagai usaha mempermudah memehami materi, dapat dibantu dengan materi 4. SK1 KD4 SM1

Juga dapat dibahas melalui materi ini.materi-sejarah-semester-1

reformasi 2

Posted: November 16, 2012 in Materi Sejarah

Pemerintahan  Reformasipresentasi pertemuan ke 7

Reformasi

Posted: November 16, 2012 in Materi Sejarah

Untuk mempermudah  pembelajaran, dapat menggunakan materi berikut  !

materi ajar ” Orde baru “

Posted: October 9, 2012 in Materi Sejarah

Untuk memahami  perkembangan Orde baru, dapat  menggunakan materi berikut  !!

Khusus untuk kalangan sendiri.

Orde Baru 1

Posted: August 30, 2012 in Materi Sejarah

 

ORDE BARU    

Latarbelakang
Peristiwa pemberontakan G30S PKI. Hal ini menyebabkan presiden Soekarno memberikan mandat kepada Soeharto untuk melaksanakan kegiatan pengamanan di indonesia melalui surat perintah sebelas maret atau Supersemar.

Kronologis lahirnya orde baru

  • 30 September 1965
    Terjadinya pemberontakan G30S PKI  ( korban )
  • 11 Maret 1966
    Letjen Soeharto menerima Supersemar dari presiden Soekarno untuk melakukan pengamanan
  • 12 Maret 1966
    Dengan memegang Supersemar, Soeharto mengumumkan pembubaran PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang
  • 22 Februari 1967
    Soeharto menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari presiden Soekarno
  • 7 Maret 1967
    Melalui sidang istimewa MPRS, Soeharto ditunjuka sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil
    pemilu
  • 12 Maret 1967
    Jenderal Soeharto dilantik menjadi presiden Indonesia kedua sekaligus menjadi masa awal mula lahirnya era orde baru

Ciri- ciri  pokok dan kebijakan-kebijakan pada masa orde baru 

Ciri pokok orde baru

  • Pemerintahan yang diktator tetapi aman dan damai
  • Tindak korupsi merajalela
  • Tidak ada kebebasan berpendapat
  • Pancasila terkesan menjadi ideologi tertutup
  • Pertumbuhan ekonomi yang berkembang pesat
  • Ikut sertanya militer dalam pemerintahan
  • Adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara orang kaya dan orang miskin
  • Keamanan dan ketertiban terjamin
  • Pembangunan berkelanjutan dengan program Repelita  ( Pelita )
  • Indonedia mulai dikenal secara internasional
  • Sandang dan pangan mudah dan murah ( terjangkau)

 

Kebijakan pada masa orde baru

  • Indonesia didaftarkan lagi menjadi anggota PBB pada bulan september 1966
  • Adanya perbaikan ekonomi dan pembangunan
  • Pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran
  • Dilaksanakannya kebijakan transmigrasi dan keluarga berencana
  • Adanya gerakan memerangi buta huruf
  • Dilakukannya swasembada pangan
  • Munculnya gerakan Wajib Belajar dan gerakan Nasional Orang Tua Asuh
  • Dibukanya kesempatan investor asing untuk menanamkan modal di
    Indonesia

 

Lahirnya Orde Baru

Sejak gerakan PKI berhasil ditumpas, Presiden Soekarno belum bertindak tegas terhadap G 30 S/PKI. Hal ini menimbulkan ketidaksabaran di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Pada tanggal 26 Oktober 1965 berbagai kesatuan aksi seperti KAMI, KAPI, KAGI, KASI, dan lainnya mengadakan demonstrasi. Mereka membulatkan barisan dalam Front Pancasila. Dalam kondisi ekonomi yang parah, para demonstran menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Pada tanggal 10 Januari 1966 para demonstran mendatangi DPR-GR dan mengajukan Tritura yang isinya:
1. bubarkan PKI,
2. bersihkan kabinet dari unsur-unsur G 30 S/PKI, dan
3. turunkan harga.
Menghadapi aksi mahasiswa, Presiden Soekarno menyerukan pembentukan Barisan Soekarno kepada para pendukungnya. Pada tanggal 23 Februari 1966 kembali terjadi demonstrasi. Dalam demonsrasi tersebut, gugur seorang mahasiswa yang bernama Arif Rahman Hakim. Oleh para demonstran Arif dijadikan Pahlawan Ampera. Ketika terjadi demonsrasi, presiden merombak kabinet Dwikora menjadi kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Oleh mahasiswa susunan kabinet yang baru ditentang karena banyak pendukung G 30 S/PKI yang duduk dalam kabinet, sehingga mahasiswa memberi nama kabinet Gestapu. Saat berpidato di depan sidang kabinet tanggal 11 Maret 1966, presiden diberitahu oleh Brigjen Sabur. Isinya bahwa di luar istana terdapat pasukan tak dikenal. Presiden Soekarno merasa khawatir dan segera meninggalkan sidang. Presiden bersama Dr. Soebandrio dan Dr. Chaerul Saleh menuju Istana Bogor. Tiga perwira tinggi TNI AD yaitu Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M. Yusuf, dan Brigjen Amir Mahmud menyusul presiden ke Istana Bogor. Tujuannya agar Presiden Soekarno tidak merasa terpencil. Selain itu supaya yakin bahwa TNI AD bersedia mengatasi keadaan asal diberi kepercayaan penuh. Oleh karena itu presiden memberi mandat kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keadaan dan kewibawaan pemerintah. Mandat itu dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Keluarnya Supersemar dianggap sebagai tonggak lahirnya Orde Baru. Supersemar pada intinya berisi perintah kepada Letjen Soeharto untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk terjaminnya keamanan dan kestabilan jalannya pemerintahan. Selain itu untuk menjamin keselamatan presiden.

Bagi bangsa Indonesia Supersemar memiliki arti penting berikut.
1. Menjadi tonggak lahirnya Orde Baru.
2. Dengan Supersemar, Letjen Soeharto mengambil beberapa tindakan untuk         menjamin kestabilan jalannya pemerintahan dan revolusi Indonesia.
3. Lahirnya Supersemar menjadi awal penataan kehidupan sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Kedudukan Supersemar secara hukum semakin kuat setelah dilegalkan melalui Ketetapan MPRS No. IX/ MPRS/1966 tanggal 21 Juni 1966. Sebagai pengemban dan pemegang Supersemar, Letnan Jenderal Soeharto mengambil beberapa langkah strategis berikut.
1. Pada tanggal 12 Maret 1966 menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang dan membubarkan PKI termasuk ormas-ormasnya.
2. Pada tanggal 18 Maret 1966 menahan 15 orang menteri yang diduga terlibat dalam G 30 S/PKI.
3. Membersihkan MPRS dan DPR serta lembaga-lembaga negara lainnya dari pengaruh PKI dan unsur-unsur komunis.
Berbagai Peristiwa Penting di Bidang Politik pada Masa Orde Baru
Dalam melaksanakan langkah-langkah politiknya, Letjen Soeharto berlandaskan pada Supersemar. Agar dikemudian tidak menimbulkan masalah, maka Supersemar perlu diberi landasan hukum. Oleh karena itu pada tanggal 20 Juni 1966 MPRS mengadakan sidang umum. Berikut ini ketetapan MPRS hasil sidang umum tersebut.
1. Ketetapan MPRS No. IX/MPRS/1966, tentang Pengesahan dan Pengukuhan Supersemar.
2. Ketetapan MPRS No. XI/MPRS/1966, tentang Pemilihan Umum yang dilaksanakan selambat-lambatnya tanggal 5 Juli 1968.
3. Ketetapan MPRS No. XII/MPRS/1966, tentang penegasan kembali Landasan Kebijaksanaan Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
4. Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966, tentang Pembentukan Kabinet Ampera.
5. Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966, tentang Pembubaran PKI, dan menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam sidang ini, MPRS juga menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno yang berjudul “Nawaksara” (sembilan pasal), sebab pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno tidak menyinggung masalah PKI atau peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965. Selanjutnya MPRS melaksanakan Sidang Istimewa tanggal 7 – 12 Maret 1967. Dalam Sidang Istimewa ini MPRS menghasilkan empat Ketetapan penting berikut :
1. Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 tentang pencabutan kekuasaan dari Presiden Soekarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden sampai dipilihnya presiden oleh MPRS hasil Pemilu.
2. Ketetapan MPRS No. XXXIV/MPRS/1967 tentang peninjauan kembali Ketetapan MPRS No. I/MPRS/1960 tentang Manifesto Politik Indonesia sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara.
3. Ketetapan MPRS No. XXXV/MPRS/1967 tentang pencabutan Ketetapan MPRS No. XVII/MPRS/1966 tentang Pemimpin Besar Revolusi.
4. Ketetapan MPRS No. XXXVI/MPRS/1967 tentang pencabutan Ketetapan MPRS No. XXVI/MPRS/1966 tentang pembentukan panitia penelitian ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.
Berdasarkan Ketetapan MPRS No. XIII/MPRS/1966 maka dibentuk Kabinet Ampera pada tanggal 25 Juli 1966. Pembentukan Kabinet Ampera merupakan upaya mewujudkan Tritura yang ketiga, yaitu perbaikan ekonomi. Tugas pokok Kabinet Ampera disebut Dwi Dharma yaitu menciptakan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi. Program kerjanya disebut Catur Karya, yang isinya antara lain:
1. memperbaiki kehidupan rakyat terutama sandang dan pangan,
2. melaksanakan Pemilu,
3. melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan   nasional, dan
4. melanjutkan perjuangan antiimperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya.
Dengan dilantiknya Jenderal Soeharto sebagai presiden yang kedua (1967-1998), Indonesia memasuki masa Orde Baru. Selama pemerintahan Orde Baru, stabilitas politik nasional dapat terjaga. Lamanya pemerintahan Presiden Soeharto disebabkan oleh beberapa faktor berikut :
1. Presiden Soeharto mampu menjalin kerja sama dengan golongan militer dan cendekiawan.
2. Adanya kebijaksanaan pemerintah untuk memenangkan Golongan Karya (Golkar) dalam setiap pemilu.
3. Adanya penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) sebagai gerakan budaya yang ditujukan untuk membentuk manusia Pancasila, yang kemudian dikuatkan dengan ketetapan MPR No II/MPR/1978.
Untuk mewujudkan kehidupan rakyat yang demokratis, maka diselenggarakan pemilihan umum. Pemilu pertama pada masa pemerintahan Orde Baru dilaksanakan tahun 1971, dan diikuti oleh sembilan partai politik dan satu Golongan karya. Sembilan partai peserta pemilu tahun 1971 tersebut adalah Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Murba, Nahdlatul Ulama (NU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islam (PI Perti), Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Organisasi golongan karya yang dapat ikut serta dalam pemilu adalah Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Sejak pemilu tahun 1971 sampai tahun 1997, kemenangan dalam pemilu selalu diraih oleh Golkar. Hal ini disebabkan Golongan Karya mendapat dukungan dari kaum cendekiawan dan ABRI.
Untuk memperkuat kedudukan Golkar sebagai motor penggerak Orde Baru dan untuk melanggengkan kekuasaan maka pada tahun 1973 diadakan fusi partai-partai politik. Fusi partai dilaksanakan dalam dua tahap berikut.
1. Tanggal 5 Januari 1963 kelompok NU, Parmusi, PSII, dan Perti menggabungkan diri  menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
2. Tanggal 10 Januari 1963, kelompok Partai Katolik, Perkindo, PNI, dan IPKI menggabungkan diri menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
Di samping membina stabilitas politik dalam negeri, pemerintah Orde Baru juga mengadakan perubahan-perubahan dalam politik luar negeri.

Berikut ini upayaupaya pembaruan dalam politik luar negeri.
1. Indonesia Kembali Menjadi Anggota PBB
Pada tanggal 28 September 1966 Indonesia kembali menjadi anggota PBB. Sebelumnya pada masa Demokrasi Terpimpin Indonesia pernah keluar dari PBB sebab Malaysia diterima menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Keaktifan Indonesia dalam PBB ditunjukkan ketika Menteri Luar Negeri Adam Malik terpilih menjadi ketua Majelis Sidang Umum PBB untuk masa sidang tahun 1974.
2. Membekukan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC)
Sikap politik Indonesia yang membekukan hubungan diplomatik dengan RRC disebabkan pada masa G 30 S/PKI, RRC membantu PKI dalam melaksanakan kudeta tersebut. RRC dianggap terlalu mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.
3. Normalisasi hubungan dengan Malaysia
Pada tanggal 11 Agustus 1966, Indonesia melaksanakan persetujuan normalisasi hubungan dengan Malaysia yang pernah putus sejak tanggal 17 September 1963. Persetujuan normalisasi ini merupakan hasil Persetujuan Bangkok tanggal 29 Mei sampai tanggal 1 Juni 1966.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Adam Malik, sementara Malaysia dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Tun Abdul Razak. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan yang disebut Persetujuan Bangkok (Bangkok Agreement), isinya sebagai berikut.
a. Rakyat Sabah dan Serawak diberi kesempatan untuk menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil mengenai kedudukan mereka dalam Federasi Malaysia.
b. Pemerintah kedua belah pihak menyetujui pemulihan hubungan diplomatik.
c. Tindakan permusuhan antara kedua belah pihak akan dihentikan.
4. Berperan dalam Pembentukan ASEAN
Peran aktif Indonesia juga ditunjukkan dengan menjadi salah satu negara pelopor berdirinya ASEAN. Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik bersama menteri luar negeri/perdana menteri Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand menandatangi kesepakatan yang disebut Deklarasi Bangkok pada tanggal 8 Agustus 1967. Deklarasi tersebut menjadi awal berdirinya organisasi ASEAN.

Materi Orde Baru

Posted: August 27, 2012 in Materi Sejarah

Untuk bahasan materi Orde Baru anda dapat memilih satu dari tiga tife materi yang tersedia, masing-masing  ada yang lebihnya.

Untuk sementara, silahkan klik ini  !

 

 

PERJUANGAN BANGSA INDONESIA DALAM MENGHADAPI ANCAMAN DISINTEGRASI

A. PEMBRONTAKAN PKI MADIUN

  1. Isi Perjanjian Renville menyebabkan  kabinet  Amir Syarifudin jatuh, digantikan oleh M. Hatta yang melaksanakan Renville. Amir Syarifudin berbalik memusuhi pemerintah dengan menyusun  kekuatan  dalam Front Demokrasi Rakyat ( FDR ) yang menyatukan semua golongan sosialis, menghasut kaum buruh, melaksanakan pemogokan di Delangu 5 Juli 1948
  2. Bergabungnya Muso yang baru kembali dari Moskow , menyusun doktrin baru “ Jalan baru “ menuduh  Hatta bersifat kompromis dengan Belanda.
  3. Puncak agitasi PKI  18 September 1948  adalah mengumumkan  berdirinya “ Sovyet Republik Indonesia “  di Madiun.  Pejabat pemerintah, perwira, pemimpin partai, alim ulama, rakyat yang dianggap musuh  dibunuh dengan kejam.
  4. Sikap pemerintah  adalah mengadakan oprasi meliter pimpinan Kol Gatot Subroto, Kol Sungkono, 30 September 1948, Madiun dapat direbut kembali,  Muso tertembak mati,  Amir Syarifudin ditangkap dan dikenakan hukuman mati.

B. GERAKAN  DI / TII

  1. DI / TII   JAWABARAT.
  • Pimpinan  SM  Kartosuwiryo,  7 Agustus 1949 mendirikan Negara Islam Indonesia ( NII ).
  • Pemerintah melakukan penumpasan dengan operasi meliter “ Pagar Betis “ 4 Juni 1962  SM Kartosuwiryo  tertangkap di Gunung Geber.  Dihukum mati 16 Agustus 1962.

                 2. DI / TII  JAWA TENGAH.  4 Desember  1951  ,

  • pimpinan  Amir Fatah  dengan daerah Brebes, Tegal, Pekalongan, menyatakan bergabung dengan Kartosuwiryo, diangkat  sebagai Komandan pertempuran Jawa Tengah  berpangakt Mayor Jendral Islam Indonesia.
  • Pemerintah melakukan operasi meliter dengan sandi  “Gerakan Benteng Negara” pimpinan  Letkol Sarbini, dan  pimpinan terakhir adalah Letkol Ahmad Yani. Operasi meliter  dilanjutkan dengan sandi Benteng Raider .

            3. DI / TII  KALIMANTAN SELATAN   10 Oktober 1950

  • Pimpinan Ibnu Hajar / Haderi Bin Umar / Angli , eks Letda TNI, melakukan pembrontakan mengaku dibawah Kartosuwiryo. Menyerang pos-pos  keamanan di kaltim,
  • Akhir 1959  berhasil dihancurkan, Ibnu hajar di tangkap.

          4. DI/TII SULAWESI SELATAN  17 Agustus 1951,

  • Pimpinan Kahar Muzakar. Memimpin laskar-laskar rakyat Sulawesi Sulsel ( KGSS ),
  • 30 April 1950 mengirim surat kepada pemerintah  dengan tuntutan agar semua KGSS masuk dalam APRIS  sebagai Brigade Hasanudin.
  • 17 Agustus 1951 bersama anak buahnya melarikan diri  ke hutan dan menyatakan bagian dari NII pimpian Kartosuwiryo.
  • Pemerintah melakukan operasi meliter,  s.d  3 Februari 1965, Kahar Muzakar tertembak mati.

      5. DI / TII  ACEH  21  September 1953.

  • Pimpinan Daud Beureueh  khawatir kehilangan kedudukan  dan kecewa  karena penurunan kedudukan Aceh  dari DI menjadi kekeresidenan  dibawah Sumatra utara
  • Th. 1950.  21 September  1953, Daud B mengeluarkan maklumat  Aceh dibawah NII Kartosuwiryo. 
  • Pemerintah melakulan operasi meliter  dan pendekatan kepada masyarakat.

C.   GERAKAN APRA, ANDI AZIS, RMS, PRRI / Permesta.

  1. Pemberontakan APRA di Bandung. 23 januari 1950
  • APRA dibentuk untuk mendukung Negara Pasundan  pimpinan Westerling. Menolak pembubaran negera Pasundan dan menuntut agar APRA diakui sebagai  tentara Pasundan.
  • 23 januari 1955, APRA melakukan pembunuhan terhadap  anggota TNI yang ditemui
  • Pemerintah  melakukan operasi meliter, 24 April 1950 dapat dihancurkan.
  • Westerling lolos,  Otaknya adalah  Sultan Hamid II merencanakan pembunhan terhadap beberapa pejabat pemerintahan terutama  yang berhubungan dengan keamanan

      2. Pembrontakan Andi Azis, 5 April  1950

  • Letnan , ajudan  wali Negara NIT, 30 maret 1950  dengan 1 kompi diterima menjadi APRIS dan menjadi komandan dengan pangkat Kapten.
  • 5 April 1950  melakukan pembrontakan  menuntuk agar  APRIS bekas KNIL saja yang bertanggungjawab  atas keamanan NIT, menentang masuknya APRIS dari TNI, mempertahankan NIT.
  • Pemerintah mengeluarkan ultimatum agar Andi Azis  datang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan tindakannya.
  • Pengiriman  ekspedisi meliter dibawah  Mayor Worang , kemudian Alex Kawilarang. Walaupun  Andi Azis  telah menyerah, pembrontakan berlanjut sampai  Agustus 1950.

       3. Pembrontakan  RMS, 25 Mei  1950.

  • 25 April 1950  Dr. Soumukil  memproklamirkan RMS lepas dari RIS dan NIT dengan ibukota  Ambon .
  • Pemerintah mengirim Dr. J Leimena untuk membujuk  Soumukil,  karena gagal, dikirim ekspedisi meliter pimpinan Kolonel Alex Kawilarang .
  • APRIS dapatr merebut Ambon, Letkol Slamet Riyadi gugur. 2 Desember 1963, Dr. Soumukil  tertangkap dan diadili dalam mahkamah  meliter LB, dikenakan hukuman mati.

       4. Pembrontakan PRRI / Permesta. 15 Februari 1958Sumatra Barat

  • Pertentangan antara pemerintah pusat dengan daerah karena masalah otonomi dan keuangan yang tidak seimbang , menyebabkan beberapa daerah  membentuk dewan-dewan seperti Dewan Banteng, Dewan Gajah , Dewan Manguni.
  • 9 Januari 1958  mendakan pertemuan di Sumatra barat  membicarak pemerintahan baru.
  • 10 Februari 1958  Kol Ahmad Husin menyampaikan ultimatum kepada pemerintah pusat :
    • Dalam waktu 5 x 24 jsm  Kabinet Djuanda harus menyerahkan mandat kepada presiden  atau presiden mencabut mandat kabinet Djuanda.
    • Presiden menugaskan Hatta dan SHB IX untuk membentuk zaken kabinet
    • Presiden mengembalikan kedudukannya sebagai  presiden konstitusional.
    • 11 Februari 1958 pemerintah menolak ultimatum tsb dan memecat  tokoh yang terlibat , Komando daerah meliter  Sumatra tengah dibekukan dan langsung dibawah  KASAD. 
    • 15 Februari 1958  Achmad Husein dkk,  memproklamirkan PRRI dengan Syafrudin Prawiranegara  sebagai PM. 17 Feb 1958  Letkol DJ Somba Komando Kodam Sulut-tengah,  mendukung dan membentuk  Gerakan “Perjuangan Semesta” atau Permesta.
    • Operasi meliter  gabungan  semua unsur dengan sandi “operasi Merdeka”  pimpinan Letkol Rukminto Hendraningrat.

D. PERISTIWA G.30.S / PKI

  • Latar belakang.
    • Gagalnya pembrontakan Madiun 1948, bergerak dibawah tanah, th. 1950 ikut dalam kegiatan partai politik.
    • Peranan DN Aidit membangun kembali PKI sehimgga menjadi partai besar.
    • Pelaksanaan  Demokrasi Terpimpin th. 1959 memberi kesempatan lebih luas untuk berkembang yang hanya tersaingi oleh TNI AD.
    • Mampu mempengaruhi semua komponen masyarakat ( seniman, wartawan, guru, mahasiswa, buruh, intelektual bahkan perwira TNI termasuk AD.
    • Kegiatan pengembangan pengaruh.
      • Membentuk biro khusus dibawah Syam Kamaruzaman
      • Menuntut pembentukan angkatan ke 5  ( buruh dan tani yang dipersenjatai )
      • Melakukan sabotase, aksi sepihak dan terror.
      • Aksi fitnah terhadap TNI AD dengan isu “Dewan Jendral
      • Gerakan
        • Gerakan  dimulai  30 September 1965  merebut kekuasaan dari pemerintah RI dipimpin oleh Letkol Untung, komandan batalyon 1 Resimen cakrabirawa.
        • Di Jogjakarta, 30 September  terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap beberapa perwira AD  ( Letkol Sugiyono )
  • 1 Oktober 1965, menculik dan membunuh perwira AD yang dianggap penghalang perebutan kekuasaan ( Dewan Jendral ) , sementara  Menko Hankam /kasab AH. Nasution lolos, putrinya  Ade Irma Suryani  jadi korban.
  • 1 Oktober, Menduduki studio RRI, Telekomunikasi dan pagi hari mengumumkan bahwa G.30S, ditujukan  kepada para perwira AD yang akan merebut kekuasaan.
  • 1 Oktober  pukul 13.00 menyiarkan Dekrit  pembentukan Dewan Revolusi di pusat dan daerah , dan menyatakan kabinet  Dwikora  demisioner. Dewan Revolusi menjadi sumber kekuasaan dalam Negara RI.
  • 1 Oktober  pukul  14.00 diumumkan  susunan Dewan Revolusi  dengan Letkol Untung sebagai  pimpinan , menghapus pangkat jendral, pangkat tertinggi adalah Letkol.
  • Penumpasan
    • Setelah menerima laporan, Pangkostrad  Mayjed Suharto mengambil alih pimpinan AD.  Bertekad menumpas  G.30.S / PKI dengan menggunakan unsur  Kostrad yang ada di Jakarta yaitu RPKAD dan batalyon 328/Para Kujang / Siliwangi.
    • Menetralisir  dan menyadarkan para kesatuan  yang dipengaruhi  dan digunakan  G.30.S / PKI, merebut kembali RRI dan Telkom.
      • Melalui RRI , Mayjend Suharto  menumumkan bahwa :
  • < G.30.S / PKI adalah pembrontakan untuk merebut kekuasaan
  • < enam perwira tinggi  AD telah diculik
  • < presiden Soekarno dalam keadaan aman
  • < rakyat diminta tetap tenang dan waspada.
  • 2 Oktober berhasil menguasan Lanud Halim, 3 Oktober,  ditemukan sumur tempat mengubur para perwira tinggi AD, 5 Oktober  dimakamkan di TMP Kalibata.
  • Reaksi masyarakat
    • Rakyat marah terhadap PKI  dengan demonstrasi menuntuk pembubaran PKI dan ormasnya.
    • Dipelopori oleh KAMI dan KAPPI, tergabung dalam Front Pancasila mengajukan tuntutan “ Tritura “ 
    • Demonstrasi 24 Februari 1966  tewasnya  Arief Rahman Hakim.Tindakan Pmerintah
    • Tuntutan  PKI mempertanggungjawabkan  gerakannya semakin meningkat, keaman  terganggu.
    • Dikeluarkanya  Supersemar dari Sukarno kepada Suharto
    • Pembubaran PKI dan pembekuan  Ormasnya PKI   dengan tap xxv / MPRS / 1966
    • Orang yang dianggap terlibat  ditindak  dan banyak yang dibuang ke pulau Buru tanpa pengadilan.