Peristiwa di sekitar Proklamasi 2

Posted: July 22, 2013 in Materi Sejarah, Tugas Siswa

Dibawah ini dipaparkan beberapa peristiwa secara berulang-ulang  berkaitan dengan  Peristiwa di sekitar Proklamasi.

Untuk seluruh siswa kelas XII IPS, silahkan membacanya, kemudian  buatlah kesimpulan yang terdiri dari  :

1. BPUPKI

    > Pengertiannya, latar belakang pembentukannya, Tujuan pembentukannya, hasil yang dicapai oleh BPUPKI  ( sebagai materi    minimal yang diharapkan dapat terkuasai, silahkan menambahkan  materi lainnya, tetapi  dapat dipahami dengan baik.

    > PPKI   ( sama dengan  BPUPKI )

   > Peristiwa Rengas Dengklok  ( latar belakang, tujuan, penyelesaian )

   > Detik-detik Proklamasi.

   > Hafal bunyi  teks Proklamasi 

   > Yang lainnya menyusul.

 

PEMBENTUKAN BPUPKI

Pada akhir tahun 1944, kedudukan Jepang semakin terdesak. Jepang selalu menderita kekalahan dalam Perang Asia-Pasifik. Bahkan di Indonesia berkobar perlawanan yang dilakukan rakyat maupun tentara PETA  Keadaan  jepang semakin buruk, moral masyarakat menurun. Hal-hal yang tidak menguntukan menyebabkan jatuhnya Kabinet Tojo pada tanggal 17 Juli 1944, dan digantikan oleh Jenderal Kuniaki Koiso.

Pada 7 september 1944, di dalam sidang istimewa Parlemen Jepang di Tokyo, Perdana Menteri Koiso mengumumkan bahwa daerah Hindia Timur (indonesia) diperkenan merdeka kelak di kemudian hari. Pada tahun 1944, Pulau Saipan direbut oleh sekutu. Angkatan perang Jepang dipukul mundur angkatan perang Amerika Serikat dari Papua Nugini, kepulauan Solomon, dan kepulauan Marshall, maka seluruh garis pertahanan Jepang di Pasifik mulai hancur berarti kekalahan Jepang di ambang pintu. Sekutu terus menyerbu kota-kota di Indonesia seperti Ambon, Makassar, Manado, dan Surabaya. Akhirnya tentara Sekutu mendarat di kota penghasil minyak yakni Tarakan dan Balikpapan.

Menghadapi situsi yang gawat tersebut, pemerintah pendudukan Jepang di Jwa di bawah pimpinan Letnan Jenderal Kumakici Harada berusaha menyakinkan bangsa Indonesia tentang janji kemerdekaan. Pada 1 Maret 1945, diumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepangnya Sokuritsu Zunbi Coosakai. Maksud dan tujuan dibentuknya BPUPKI ialah untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal penting berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut pembentukan negara Indonesia merdeka.

Ketua BPUPKAI adalah Dr K.R.T. Radjiman Wedioningrat. dibantu 2 orang ketua muda, yaitu seorang Jepang Shucokan Cirebon bernama Icibangase dan R.P. Suroso sebagai kepala sekretariat dengan dibantu oleh Toyohito Masuda dan MrlA.G. Pringgodigdo. Anggota BPUPKI ada 40 orang termasuk 4 orang golongan Arab serta golongan peranakan Belanda dan terdapat pula 7 orang Jepang dalam pengurus istimewa yakni tanpa hak suara, sehingga seluruhnya berjumlah 63 orang.
BPUPK+ ini dilantik pada 28 Mei 1945, di gedung Cuo Sangi In yang dihadiri oleh seluruh anggota BPUPKI dan dua pembesar Jepang, yakni Jenderal Itagaki dan Jenderal Yaiciro Nagano.

Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Cosakai dilafalkan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Dokuritsu Junbi Chōsakai adalah sebuah badan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan balatentara Jepang pada tanggal 29 April 1945 bertepatan dengan hari ulang tahun Kaisar Hirohito. Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan dari bangsa Indonesia dengan menjanjikan bahwa Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 67 orang yang diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Radjiman Wedyodiningrat dengan wakil ketua Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.

Di luar anggota BPUPKI, dibentuk sebuah Badan Tata Usaha (semacam sekretariat) yang beranggotakan 60 orang. Badan Tata Usaha ini dipimpin oleh Raden Pandji Soeroso dengan wakil Mr. Abdoel Gafar Pringgodigdo dan Masuda Toyohiko (orang Jepang). Tugas dari BPUPKI sendiri adalah mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek poplitik, ekonomi, tata pemerintahan, dan hal-hal yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang membubarkan BPUPKI dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau dalam bahasa Jepang: Dokuritsu Junbi Inkai, dengan anggota berjumlah 21 orang, sebagai upaya untuk mencerminkan perwakilan dari berbagai etnis di wilayah Hindia-Belanda, terdiri dari: 12 orang asal Jawa, 3 orang asal Sumatera, 2 orang asal Sulawesi, 1 orang asal Kalimantan, 1 orang asal Sunda Kecil (Nusa Tenggara), 1 orang asal Maluku, 1 orang asal etnis Tionghoa.

 

Peristiwa Rengasdengklok

 

Bung Karno dan sejumlah Menteri

16 Agustus 1945. Pagi-pagi buta, sekitar pukul 04.30 WIB, sekelompok pemuda revolusioner membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Di sana Bung Karno, Bung Hatta, dan pemuda merundingkan Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut versi sejarah resmi, peristiwa itu adalah aksi pemuda “menculik” Bung Karno dan Bung Hatta. Kejadian itu, katanya, merupakan buntut dari silang pendapat antara golongan tua versus muda mengenai Proklamasi Kemerdekaan.

Dalam versi sejarah resmi dikatakan, golongan tua terlalu kompromis dan hanya menunggu hadiah kemerdekaan dari Jepang. Sebaliknya, golongan muda menginginkan proklamasi segera dilakukan dan tidak rela kemerdekaan sebagai hadiah dari Jepang.

Bung Karno dan Bung Hatta dianggap representasi golongan tua. Sementara di golongan pemuda ada nama-nama seperti Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, Aidit, Sidik Kertapati, Darwis, Suroto Kunto, AM Hanafie, Djohar Nur, Subadio, dan lain-lain.

Saya pikir, ada beberapa hal yang janggal dari penjelasan sejarah ini. Dengan penggunaan kata “penculikan”, saya membayangkan pengambilan paksa dan penghilangan kemerdekaan si bersangkutan. Yang jadi pertanyaan, benarkah Bung Karno dan Bung Hatta dibawa paksa dan kehilangan kemerdekaannya?

Saya membaca buku Sidik Kertapati, Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945. Sidik Kertapati adalah seorang aktor dari peristiwa itu. Dalam penjelasannya, Sidik Kertapati jelas-jelas menggunakan istilah “pengamanan tokoh nasional”. Menurutnya, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa keluar kota agar mereka terhindar dari Jepang dalam membicarakan tugas mereka yang historis, yakni Proklamasi Kemerdekaan.

Kenapa Rengasdengklot?  Karena daerah itu sejak lama sudah menjadi pusat gerakan anti-fasis. Di sana, kata Kertapati, adan kelompok anti-fasis bernama “Sapu Mas”, yang dipimpin oleh seorang perwira PETA, Syudanco Umar Bahsan.

Kalau kita baca kronologi versi Sidik Kertapati, ketika pemuda berupaya membawa Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota, tidak ada pemaksaan dan penghilangan kemerdekaan. Ketika itu, sekitar pukul 04.00 WIB, Bung Karno masih tertidur di kediamannya di Pegangsaan Timur 56 Cikini. Ia dibangunkan oleh Chaerul Saleh.

“Keadaan sudah memuncak. Kegentingan harus diatasi,” ujar Chaerul Saleh kepada Bung Karno. “Orang-orang Belanda dan Jepang sudah bersiap menghadapi kegentingan itu. Keamanan Jakarta tidak bisa ditanggung lagi oleh pemuda dan karena itu supaya Bung Karno bersiap berangkat keluar kota,” tambahnya.

Ketika Bung Karno dan rombongan tiba di Rengasdengklot, para pemuda PETA menyambut dengan pekik “Hidup Bung Karno!”, “Indonesia Sudah Merdeka!”, dan lain-lain. Artinya, kalau penculikan, tak mungkin ada penyambutan seperti itu.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, ada pertemuan di Asrama Baperki (Badan Perwakilan Pelajar Indonesia) di Tjikini 71. Sejumlah tokoh pemuda hadir, seperti Chaerul Saleh, Wikana, Aidit, Djohan Nur, Subadio, Suroto Kunto, dan lain-lain.

Hasil pertemuan itu: Kemerdekaan Indonesia harus dinyatakan melalui Proklamasi. Putusan tersebut akan disampaikan kepada Bung Karno dan Bung Hatta agar mereka atas nama Rakyat Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaan itu. Artinya, para pemuda menginginkan agar Proklamasi dinyatakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia. Dalam pertemuan itu juga, seperti diungkapkan Sidik Kertapati, Aditi mengusulkan agar Bung Karno ditetapkan sebagai Presiden pertama Republik Indonesia.

Rapat itu kemudian mengutus Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto untuk menemui Bung Karno di kediamannya. Wikana bertindak sebagai Jubir pemuda. Utusan pemuda itu mendesak Bung Karno agar menyatakan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 16 Agustus 1945.

Menanggapi permitaan pemuda, Bung Karno menyatakan bahwa dirinya tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ia meminta diberi kesempatan untuk berunding dengan pemimpin lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan.

Perundingan antar tokoh pemimpin berlangsung saat itu juga. Beberapa saat kemudian, Bung Hatta keluar menemui pemuda untuk menyampaikan hasil perundingan, bahwa usul para pemuda tidak bisa diterima karena dianggap kurang perhitungan dan akan memakan banyak korban jiwa.

Muncul pertanyaan lain: apakah bila Bung Karno menolak usulan pemuda, lantas niat proklamasi terhenti juga? Sidik Kertapati memberi jawaban. Menurutnya, kemungkinan tidak ikut sertanya Bung Karno dan Bung Hatta dalam aksi kemerdekaan sudah diperhitungkan. Sebagai alternatifnya: Proklamasi akan dilakukan melalui Presidium Revolusi. Artinya, para pemuda sudah punya Plan B. Hanya saja, memang, rencana sangat memungkinkan dengan aksi revolusioner dan kekuatan senjata.

Namun, justu dengan adanya penolakan awal oleh Bung Karno dan Bung Hatta terhadap proposal pemuda dan juga adanya plan B, saya berkesimpulan bahwa keputusan membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklot adalah upaya pengamanan. Meskipun, pada kenyataannya, proses diskusi dan perdebatan antara pemuda dan Bung Karno masih berlanjut di Rengasdengklot.

Versi Sidik Kertapati ini mirip dengan penjelasan Aidit. Juga pernyataan Jusuf Kunto, anggota PETA yang terlibat peristiwa itu. Kepada Mr Subardjo, Yusuf Kunto mengatakan, bahwa alasan mereka membawa Bung Karno dan Hatta adalah karena rasa kekhawatiran bahwa mereka akan dibunuh oleh pihak Angkatan Darat Jepang atau paling sedikitnya dipergunakan sebagai sandera kalau kerusuhan timbul. Maklum, kata Yusuf Kunto, pada tanggal 16 Agustus 1945, pemudan dan PETA merencanakan melaksanakan aksi revolusi.

Dari cerita di atas, saya berusaha mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, inisiatif pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklot bukanlah penculikan, melainkan pengamanan. Alasannya, pada tanggal 16 Agustus itu, pemuda merencanakan “Aksi Revolusi” untuk memproklamasikan kemerdekaan. Memang, pada kenyataannya, aksi revolusi itu tidak terjadi.

Kedua, perbedaan antara Bung Karno dan pemuda adalah soal kemerdekaan adalah soal cara. Bung Karno menginginkan Proklamasi Kemerdekaan tetap melalui jalur aman, yakni PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), demi menghindari pertumpahan darah dan jatuhnya korban di kalangan rakyat Indonesia. Sedangkan pemuda menghendaki jalur aksi revolusi, yakni proklamasi kemerdekaan di tengah-tengah massa rakyat.

Proklamasi Kemerdekaan dilakukan tanggal 17 Agustus 1945 di kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Proklamasi itu dibacakan oleh Bung Karno atas nama Bangsa Indonesia. Bukan oleh PPKI—sesuai dengan keinginan pemuda.

 

Sejarah Peristiwa Rengasdengklok

Usaha-usaha tokoh pendiri bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan ternyata melewati berbagai ham batan dan rintangan yang terhitung sangat rumit. Pada pelaksanaannya, ternyata rintangan yang dihadapi itu bukan saja dari kaum penjajah, tetapi juga rintangan yang datang dari kaum pribumi itu sendiri. Seperti peristiwa Rengasdengklok. Yuk kita simak ceritanya…

Seperti adanya perbedaan pendapat mengakibatkan ter pecahnya organisasi, adanya unsur kedaerahan juga menjadi faktor penghambat persatuan. Contohnya bisa kalian lihat dari berbagai tindakan tokoh partai politik dan organisasi yang banyak berhenti atau mengundurkan diri dari kepartaiannya.

Bahkan sampai menjelang hari kemerdekaan pun perbedaan pendapat di kalangan pendiri bangsa masih saja terjadi.

Jalan terang menuju Indonesia menjadi negara merdeka semakin mendekat, terutama setelah tersebarnya berita kehancuran Jepang dalam Perang Pasifik. Namun, berita tersebut sangat sedikit diketahui oleh bangsa Indonesia karena kebijakan Jepang berupa:

  1. memutuskan jalur komunikasi lewat radio,
  2. pihak dinas propaganda Jepang selalu memberikan informasi berita peristiwa kemenangan Jepang dalam Perang Pasifik.

Namun demikian, kekalahan Jepang dan menyerah kepada tentara sekutu pada 14 Agustus 1945 informasinya dapat diterima lewat berita yang disiarkan BBC (Inggris) di Bandung. Informasi ini pun didengar oleh pemuda-pemudi yang tergabung dalam Angkatan Baru Indonesia dan segera mereka mengadakan pertemuan-pertemuan. Pada 15 Agustus 1945 mereka berkumpul di ruang belakang Laboratorium Bakteriologi Jalan Pegangsaan Timur 13 Jakarta. Mereka membicarakan tentang kemerdekaan Indonesia yang merupakan hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri yang tidak bergantung pada bangsa atau negara lain.

Pada saat itu bersamaan juga dengan kepulangan ketiga tokoh bangsa Indonesia dari Saigon. Golongan muda menginginkan agar adanya pengumuman tentang kemerdekaan Indonesia untuk dilakukan secepatnya tanpa harus menunggu kebijakan pemerintah Jepang. Tetapi Ir. Soekarno atas nama golongan tua menolak hal itu dengan berbagai usulannya, bahwa kemerdekaan Indonesia harus dilakukan secara terorganisasi dan direncanakan akan ditentukan pada rapat PPKI pada 18 Agustus 1945. Namun Moh. Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan Indonesia diperoleh sendiri atau pemberian dari pemerintah Jepang tidak perlu dipermasalahkan. Jepang memang sudah tidak memiliki kekuatan lagi, karena kalah dalam perang, tetapi yang harus diperhatikan adalah sekutu yang berusaha ingin mengembalikan Belanda ke Indonesia.

Ternyata masukan dari kedua tokoh golongan tua itu tidak ditanggapi oleh golongan muda, mereka tetap pada prinsip semula yaitu ingin saat itu juga mengumandangkan pernyataan bahwa Indonesia telah merdeka. Sehingga terjadinya kesalahpahaman tentang golongan tua dan golongan muda saat berbicara mengenai kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut memicu golongan muda untuk mengamankan Soekarno dan Moh. Hatta ke luar kota agar mereka berdua tidak mendapat pengaruh dari pemerintah Jepang. Para pemuda membawa kedua tokoh itu ke sebuah rumah di daerah sebelah timur Jakarta, tempat yang dimaksud adalah Rengasdengklok (sebuah kota kecil yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Karawang-Jawa Barat). Kota ini dipilih karena alasan teknis dirasa aman dari pengawasan Jepang dan jauh dari jalan raya yang menghubungkan Jakarta– Cirebon, sehingga golongan muda mudah mengawasi ketika ada pemerintah Jepang yang mencoba datang ke Rengasdengklok.

Setibanya di Rengasdengklok golongan muda terus kepada Ir. Soekarno dan Moh. Hatta untuk memprokla masikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada pengaruh pemerintah Jepang, namun tetap saja tidak berhasil. Rupa nya kedua orang tersebut memiliki kewibawaan sehingga sepertinya golongan muda pun tidak berhasil untuk membujuknya. Tetapi saat pembicaraan Shodanco Singgih dengan Bung Karno, ternyata beliau siap untuk mem proklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan secepatnya setelah mereka berdua kembali ke Jakarta. Setelah men dengar pernyantaan tersebut, Ir. Soekarno–Shodanco Singgih berangkat ke Jakarta untuk menyiarkan rencana proklamasi kepada rekan-rekannya. Karena sudah dicapai kesepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di Jakarta, maka Jusuf Kunto dari golongan pemuda mengantarkan Ahmad Subardjo untuk menjemput Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dan tiba di Jakarta pada 16 Agustus 1945 pukul 18.00 waktu Jepang (17.30), yang sebelumnya di Rengasdengklok Ahmad Subardjo memberi jaminan supaya proklamasi dilaksanakan keesokan harinya yaitu pada 17 Agustus 1945.

A. PEMBENTUKAN PPKI

Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan. Sebagai gantinya pemerintah pendudukan Jepang membentuk PPKI (Dokuritsu Junbi Inkai). Sebanyak 21 anggota PPKI yang terpilih tidak hanya terbatas pada wakil-wakil dari Jawa yang berada di bawah pemerintahan Tentara Keenambelas, tetapi juga dari berbagai pulau, yaitu : 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatera, 2 wakil dari Sulawesi, seorang dari Kalimantan, seorang dari Sunda Kecil (Nusatenggara), seorang dari Maluku dan seorang lagi dari golongan penduduk Cina. Ir. Sukarno ditunjuk sebagai ketua PPKI dan Drs. Moh. Hatta ditunjuk sebagai wakil ketuanya. Sedangkan Mr. Ahmad Subardjo ditunjuk sebagai penasehatnya.

Kepada para anggota PPKI, Gunseikan Mayor Jenderal Yamamoto menegaskan bahwa para anggota PPKI tidak hanya dipilih oleh pejabat di lingkungan Tentara Keenambelas, akan tetapi oleh Jenderal Besar Terauci sendiri yang menjadi penguasa perang tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Dalam rangka pengangkatan itulah, Jenderal Besar Terauci memanggil tiga tokoh Pergerakan Nasional, yaitu Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta dan dr. Radjiman Wediodiningrat. Pada tanggal 9 Agustus 1945 mereka berangkat menuju markas besar Terauci di Dalat, Vietnam Selatan. Dalam pertemuan di Dalat pada tanggal 12 Agustus 1945 Jenderal Besar Terauci menyampaikan kepada ketiga tokoh itu bahwa Pemerintah Kemaharajaan telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Pelaksanaannya dapat dilakukan segera setelah persiapannya selesai oleh PPKI. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.

Ketika ketiga tokoh itu berangkat kembali menuju Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang telah dibom atom oleh Sekutu di kota Hirosima dan Nagasaki. Bahkan Uni Soviet mengingkari janjinya dan menyatakan perang terhadap Jepang seraya melakukan penyerbuan ke Manchuria. Dengan demikian dapat diramalkan bahwa kekalahan Jepang akan segera terjadi. Keesokan harinya, pada tanggal 15 Agustus 1945 Sukarno-Hatta tiba kembali di tanah air.

Dengan bangganya Ir. Sukarno berkata : “Sewaktu-waktu kita dapat merdeka; soalnya hanya tergantung kepada saya dan kemauan rakyat memperbarui tekadnya meneruskan perang suci Dai Tao ini. Kalau dahulu saya berkata ‘Sebelum jagung berbuah, Indonesia akan merdeka : sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka, sebelum jagung berbuah.” Perkataan itu menunjukkan bahwa Ir. Sukarno pada saat itu belum mengetahui bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

B. SIDANG PPKI SEKALIGUS PEMBENTUKAN BADAN KELENGKAPAN NEGARA

Pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI melakukan rapat yang membahas :

1. Penetapan dan pengesahan Pembukaan UUD 1945

2. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden

3. Pembentukan Badan Komite Nasional sebagai pembantu presiden

Pada tanggal 19 Agustus 1945 PPKI mengadakan rapat lanjutan yang menghasilkan :

1. Penetapan 12 menteri yang membantu tugas presiden

2. Membagi wilayah Indonesia menjadi 8 Propinsi

Pada tanggal 22 Agustus 1945 PPKI mengadakan rapat lanjutan yang menghasilkan :

Untuk menghadapi kekuatan Jepang dan Sekutu pemerintah Indonesia membentuk Badan Kemanan Rakyat ( BKR ) pada tanggal 22 Agustus 1945 yang berada di bawah wewenang KNIP. Oleh karena datangnya pasukan Sekutu dan NICA yang silih berganti sehingga pemerintah memutuskan dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) pada tanggal 5 Oktober 1945.Pada tanggal 1 Januari 1946 diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat ( TKR ) lalu tanggal 26 Januari berubah menjadi Tentara Republik Indonesia ( TRI ). Untuk menyempurnakan TRI maka pemerintah membentuk Tentara Nasional Indonesia ( TNI ) tanggal 7 Juni 1947.

Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan Jepang. Untuk menindaklanjuti
hasil kerja BPUPKI, Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ). Lembaga tersebut dalam bahasa Jepang disebut Dokuritsu Junbi Iinkai.
PPKI beranggotakan 21 orang yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mereka terdiri atas 12 orang wakil dari Jawa, 3 orang wakil dari Sumatera, 2 orang wakil dari Sulawesi, dan seorang wakil dari Sunda Kecil, Maluku serta penduduk Cina. Ketua PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, menambah anggota PPKI enam orang lagi sehingga semua anggota PPKI
berjumlah 27 orang.

 

 

 

ir.soekarno

   PPKI dipimpin oleh Ir. Sukarno, wakilnya Drs. Moh. Hatta, dan penasihatnya Ahmad Subarjo. Adapun anggotanya adalah Mr. Supomo, dr. Rajiman Wedyodiningrat, R.P. Suroso, Sutardjo, K.H. Abdul Wachid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Oto Iskandardinata, Suryohamijoyo, Abdul Kadir, Puruboyo, Yap Tjwan Bing, Latuharhary, Dr. Amir, Abdul Abbas, Teuku Moh. Hasan, Hamdani, Sam Ratulangi, Andi Pangeran, I Gusti Ktut Pudja,

PERISTIWA-PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 AGUSTUS1945

1. Peristiwa-peristiwa Menjelang Proklamasi Kemerdekaan

Adapun peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang Proklamasi Kemerdekaan antara lain:

 A. JEPANG MENYERAH KEPADA SEKUTU 

Akibat pengeboman Kota Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerikamengakibatkan Jepang kehilangan kekuatan, sehingga Jepang menyerah tanpasyarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945. Pada pertemuan di Saigon(Vietnam) tanggal 11 Agustus 1945 pukul 11.40 waktu setempat kepada para pemimpin bangsa Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Dr. RadjimanWediodiningrat), Jenderal Besar Terauchi menyampaikan hal-hal berikut  :

1) Pemerintah Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada bangsaIndonesia.

2) Untuk melaksanakan kemerdekaan dibentuk  PPKI sebagai pengganti  BPUPKI.

3) Pelaksanaan kemerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukandan secara berangsur- angsur dari Pulau Jawa, baru disusul oleh pulau lainnya.4) Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.5) Pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan

      Panitia PersiapanKemerdekaan Indonesia (PPKI) atau  Docuritsu  Junbi Inkai.

      PPKI diketuai Ir.Soekarno dan wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta.

 B. PERISTIWA RENGASDENGKLOK 

 Setelah mendengar berita Jepang menyerah kepada Sekutu,bangsa Indonesiamempersiapkan dirinya untuk merdeka. Waktu yang singkat itu dimanfaatkan sebaik- baiknya. Perundingan-perundingan diadakan di antara para pemuda dengan tokoh-tokohtua, maupun di antara para pemuda sendiri. Walaupun demikian, di antara tokoh pemudadengan golongan tua sering terjadi perbedaan pendapat, akibatnya terjadilah

“PeristiwaRengasdengklok”

Pada tanggal 16 Agustus pukul 04.00 WIB,  Bung Hatta dan Bung  Karno beserta Ibu Fatmawati dan Guntur Soekarno Poetra dibawa pemuda ke Rengasdengklok, kota kawedanan di pantai utara Kabupaten Karawang, tempatkedudukan cudan (kompi) tentara Peta. Tujuan peristiwa ini dilatarbelakangi olehkeinginan. pemuda yang mendesak golongan tua untuk segera memproklamirkankemerdekaan Indonesia. Pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta keRengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Setelah melalui perdebatan dan ditengah-tengahi Ahmad Soebardjo, menjelang malam hari, kedua tokoh itu akhirnyakembali ke Jakarta. Rombongan Soekarno–Hatta sampai di Jakarta pada pukul 23.30 waktu Jawa zaman Jepang (pukul 23.00 WIB) . Soekarno-Hatta setelah singgah di rumahmasing masing, kemudian bersama rombongan lainnya menuju

rumah LaksamanaMaeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta . (tempat Ahmad Soebardjo bekerja) untuk merumuskan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Malam itu juga segera diadakanmusyawarah. Tokoh tokoh yang hadir saat itu ialah  Ir. Soekarno, Drs. Mohammad  Hatta, Ahmad Soebardjo, para anggota PPKI, dan para tokoh pemuda, seperti Sukarni,Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro. Tokoh-tokoh yang merumuskan teks proklamasi berada di ruang makan. Adapun tokoh yang menulis teks proklamasi adalah Ir. Soekarno,

Sedangkan Drs. Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo turut mengemukakan ide-idenya secara lisan. Perumusan teks proklamasi sampai dengan penandatanganannya baruselesai pukul 04.00 WIB pagi hari, tanggal 17 Agustus 1945.

Pada saat itu juga telahdiputuskan bahwa teks proklamasi akan dibacakan di halaman

rumah Ir. Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada pagi hari pukul 10.00 WIB.

Penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia semula akan dilakukan di Hotel DesIndes. Namun pada saat itu ada aturan yang melarang adanya kegiatan rapat setelah pukul 22.00 WIB, akhirnya dipindah ke rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.

 

2. Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pelaksanaan pembacaan naskah Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan pada hariJum’at tanggal 17 Agustus 1945. Sejak pagi telah dilakukan persiapan di rumah Ir.Soekarno, untuk menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Banyak tokoh pergerakan nasional beserta rakyat berkumpul di tempat itu. Mereka ingin menyaksikan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.Sesuai kesepakatan yang diambil di rumah Laksamana Maeda, para tokohIndonesia menjelang pukul 10.30 waktu Jawa zaman Jepang atau 10.00 WIB telah berdatangan ke rumah Ir. Soekarno. Mereka hadir untuk menjadi saksi pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Acara yang disusun dalam upacara di kediaman 1r. Soekarno itu, antara lainsebagai berikut:

A. PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA.

B. PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH.

C. SAMBUTAN WALI KOTA SUWIRYO DAN DR. MUWARDI.

Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung tanpa protokol. Latief Hendraningrat memberi aba-aba siap kepada seluruh barisan pemuda. Semua yanghadir berdiri tegak dengan sikap sempurna. Suasana menjadi sangat hening. Ir.Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipersilakan maju beberapa langkah dari tempatnyasemula. Ir. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang mantap, Ir.Soekarno dan didampingi Drs. Moh. Hatta membacakan teks proklamasi.

PERISTIWA-PERISTIWA SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

1. Berita Kekalahan Jepang dalam Asia-Pasifik

Memasuki tahun 1945 kedudukan Jepang terus terdesak oleh tentara sekutu di dalam Perang Asia Timur Raya (Perang Asia-Pasifik). Satu per satu daerah kekuasaan Jepang Jatuh ke Tangan tentara Amerika Serikat. Bahkan, Pada pertengahan tahun 1945 Jepang benar-benar tidak mampu lagi memberikan perlawanan. Keadaan itu membuat Jepang tidak menyerah. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Agustus 1945 tentara Amerika menjatuhkan bom atom di Kota Hiroshima. Menyusul tanggal 9 Agustus 1945 Tentara Amerika Serikat membom Kota Nagasaki. Akibatnya, ke dua Kota penting Jepang hancur.

                Jepang pun lumpuh dan tidak berkutik. Akhirnya, pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Namun, upacara penyerahan secara resmi baru akan dilaksanakan pada tanggal 2 September 1945. Penyerangan itu dilakukan de kapal perang USS Missouri milik Amerika Serikat yang sedang merapat di teluk Tokyo.

                Peristiwa penyerahan tanggal 4 Agustus 1945 itu dirahasiakan oleh Jepang. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang di daerah pendudukan termasuk Indonesia tidak mengetahui peristiwa tersebut.

2. Kegiatan para Pemuda setelah Jepang Menyerah

                Para pemuda sepakat untuk menemui Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta. Mereka mendesak agar kedua tokoh itu mau menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, Bung Karno dan Bung Hatta tidak bersedia memenuhi tuntutan para Pemuda tersebut. Kedua tokoh itu berpendapat bahwa masalah proklamasi harus di bicarakan dengan anggota PPKI. Pandangan Bung Karno dan Bung Hatta yang semacam itu ditolak oleh para Pemuda.

                Tokoh-tokoh Pemuda menginginkan agar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak dilakukan PKI. Menurut para pandangan Pemuda PPKI adalah lembaga pembentukan Jepang. Oleh karena itu, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus di lakukan oleh tokoh-tokoh bangsa Indonesia bukan oleh PPKI. .

                Mereka gagal mendesak Bung karno dan Bung Hatta untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Para pemuda kembali berkumpul di jalan Cikini Nomor 71 untuk membahas langkah-langkah berikutnya.  Pertemuan dilaksanakan pada hari Rabu sekitar pukul 9 sampai 10 malam tanggal 15 Agustus 1945. Beberapa tokoh pemuda saat itu, antara lain Sukarni, Singgih, Wikana, Chaerul Saleh, B.M. Diah, Yusuf Kunto, dan Adam Malik. 

3. Peristiwa Rengasdengklok

                Para pemuda itu bergerak dengan sigap. Setelah mobil dan beberapa pengawal dari Peta siap, para pemuda segera mendatangi rumah Bung hatta dan Bung Karno. Wikana dan Darwis diserahi tugas menjemput Bung Karno dan Bung Hatta.  Kamis, 16 Agustus 1945 rombongan para Pemuda yang telah membawa I.R Soekarno dan Drs. Moh. Hatta bergerak kea rah timur, yaitu ke Rengasdengklok.

                Rengasdengklok adalah kota kecamatan yang terletak di sebelah utara Karawang. Daerah rengasdengklok ini kebetulan sudah di kuasai oleh pasukan Peta di bawah pimpinan Shudanco Singgih. Oleh karena itu, keamanan di Rengasdengklok lebih terjamin.

                Kamis, 16 Agustus 1945, Rombongan IR. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sampai di Rengasdengklok. Rombongan kemudian di terima oleh Shudanco Subeno. Maka ditempatkan di rumah milik Djiaw Kie Song di Desa Rengasdengklok, tidak jau dari sungai Citarum.

                Di Rengasdengklok Bung Karno dan Bung Hatta tetap belum bersedia menyatakan kemerdekaan Indonesia hari itu juga. Yusuf Kunto yang berperang sebagai penghubung. Kembali ke Jakarta untuk mengetahui perkembangan situasi. Ternyata situasi di Jakarta sedang menghangat. Tanggal 16 Agustus 1945 PPKI akan bersidang, tetapi Bung Karno dan Bung Hatta dan wakil ketua PPKI tidak ada di tempat. Ahmad Subarjo berusaha mencari dan bertemu Yusuf Kunto. Ahmad Subarjo bersama Yusuf Kunto pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta beserta rombonganya.

                Ahmad Subarjo mendesak para pemuda agar membantu Sukarno – Hatta kembali ke Jakarta.ahmad Subarjo kemudian memberikan jaminan kepada para pemuda. Beliau menyatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan di laksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945 kalau Bung Karno dan Bung Hatta dapat kembali pada saat itu juga. Ahmad Subaro mengatakan, kalau sampai pukul 12.00 tanggal 17 Agustus 1945, proklamasi itu belum juga terjadi, nyawanya akan menjadi jaminan. Akhirnya Ir. Soekarno dan Drs. Muh. Hatta beserta rombongan kembali ke Jakarta.

4. Perumusan Teks Proklamasi

                Malam hari pukil 23.00 tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta beserta rombongan tiba di Jakarta. Setelah mengantarkan Ibu fatmawati dan Guntur, Bung Karno dan kawan-kawan pergi ke rumah Laksamana Maeda. Di rumah Maeda ini mereka mengumpulkan anggota PPKI dan tokoh-tokoh pergerakan serta para pemuda.

                Sebelum mengadakan pertemuan di rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan muh. Hatta sebelumnya pergi menemui pemimpin tentara Jepang, Mayor Jendral Nashimura untuk menyatakan pendapat dan sikapnya tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

                Nashimura mengatakan tidak bertanggung jawab dan menyerahkan kepada Soekarno dan Moh. Hatta. Mengetahui sikap pemimpin Jepang, mereka segera mengadakan pertemuan. Soekarno, moh. Hatta, dan Ahmad Subarjo kemudian masuk di sebuah ruangan (ruang makan keluarga maeda) yang di ikuti Sukarni, Sayuti Malik, dan B.M. Diah.

                Di ruang makan keluarga Maeda itulah, Ir. Soekarno, DrS. Moh. Hatta, dan Ahmad Soebarjo merumuskan teks Proklamasi. Perumusan itu di saksikan oleh Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah. Setelah semuanya sepakat, konsep teks Proklamasib itu deserahkan kepada Sayuti Malik untuk di ketik. Teks Proklamasi hasil ketikan Sayuti Melik inilah yang dikenal dengan teks proklamasi yang autetik (resmi).

5. Pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan Indonesia

                Sejak pagi hari, halaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No.56 sudah sangat sibuk. Suwiryo selaku Wakil Wali Kota Jakarta tampak sibuk. Suhud, seorang anggota Barisan Pelopor ditugasi untuk mencari tiang bendera dan menyiapkan bendera Merah Putih. Untuk tiang bendera menggunakan sebatang bamboo., sedangkan bendera Merah – Putih di beroleh dari Ibu Fatmawati yang di jahit sendiri olehnya.

                Pukul 10.00 acara di mulai. Acara dibuka dengan pdato Ir. Soekarno sebagai penghantar. Selanjutnya, Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi yang telah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Muh. Hatta. Adapun bunyi teks proklamasi itu adalah sebagai berikut:

 

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,

Di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta

 

                Setelah pembacaan proklamasi, dilakukan pengibaran bendera Merah Putih. Pengibaran bendera Merah Putih ini dilakukan oleh seorang mantan komandan Peta, Latif Hendraningrat dibantu oleh S. Suhud. Tanpa di komando, bersamaan dengan naiknya bendera Merah Putih itu para hadirin mengumandangkan lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman.

 

 

diambil dari berbagai sumber ! 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s